Bab 6.1 – MENUJU GAYA HIDUP YANG BARU

Untuk Android :


Untuk PC :

Lanjutan Bab 6.

1. MENUJU GAYA HIDUP YANG BARU.

203. Karena pasar dalam upaya untuk menjual produknya cenderung untuk membangkitkan dorongan konsumerisme yang tak tertahan, orang akhirnya terjebak dalam lingkaran pembelian dan pembelanjaan yang tidak perlu. Dorongan kuat mengonsumsi mencerminkan paradigma tekno-ekonomi dalam kehidupan orang. Di sini terjadi apa yang dikatakan Romano Guardini: manusia “menerima barang praktis  dan  gaya  hidup,  seperti yang didesakkan kepadanya oleh rancangan rasional dan produksi mesin yang standar, dan ia umumnya melakukan itu dengan perasaan bahwa semuanya itu sudah wajar dan  benar”. Paradigma  itu  membuat  orang  percaya bahwa mereka bebas, selama mereka punya apa yang disebut kebebasan untuk mengonsumsi. Padahal yang sesungguhnya memegang kebebasan adalah minoritas penguasa ekonomis dan finansial. Dalam ambiguitas ini, manusia postmodern belum menemukan citra diri yang baru, yang dapat mengarahkan hidupnya; dan kurangnya identitas ini menjadi pangkal kecemasan. Kita memiliki terlalu banyak sarana untuk tujuan yang sedikit dan lemah.

204. Situasi dunia saat ini “membangkitkan rasa ketidak- pastian dan ketidakamanan, yang pada gilirannya, mendorong aneka  bentuk  egoisme  kolektif ”. Ketika  orang menjadi terpusat pada dirinya dan menutup diri dalam pikirannya sendiri, keserakahan mereka meningkat. Semakin kosong hati orang, semakin besar kebutuhannya pada barang untuk dibeli, dimiliki, dan Dalam konteks ini, tampaknya mustahil seseorang menerima kenyataan menetapkan batas-batas baginya. Dalam cakrawala ini, kepekaan sejati terhadap kesejahteraan umum juga tidak muncul. Jika sikap subjektif semacam ini makin dominan dalam sebuah masyarakat, norma akan dihormati hanya sejauh tak bertentangan dengan kebutuhan pribadi. Karena itu kita tidak hanya memikirkan gejala cuaca ekstrem atau bencana alam yang besar, tetapi juga aneka bencana akibat krisis sosial, karena obsesi gaya hidup konsumtif hanya bisa menimbulkan kekerasan yang saling menghancurkan, terutama ketika hanya sedikit orang dapat menikmati gaya hidup itu.

205. Namun, semuanya tidak hilang, karena manusia yang bisa merosot secara ekstrem, juga mampu bangkitmelampaui dirinya, memilih kembali yang baik danmembaharui dirinya, melampaui segala kondisi mental dan sosial yang didesakkan Manusia mampu melihat diri sendiri  dengan jujur, mengungkapkan ketidakpuasannya, dan memasuki  jalan baru menuju kebebasan sejati. Tidak ada sistem yang sepenuhnya dapat meniadakan keterbukaan untuk kebaikan, kebenaran dan keindahan, maupun kemampuan untuk memberi tanggapan yang terus ditimbulkan oleh Al-lah dari dalam lubuk hati manusia. Saya meminta setiap orang di dunia ini agar tidak melupakan martabatnya. Tidak ada yang memiliki hak untuk mengambilnya dari kita.

206. Perubahan gaya hidup bisa membawa tekanan yang sehat pada mereka yang memegang kekuasaan politis, ekonomis dan sosial. Inilah yang terjadi ketika gerakan- gerakan konsumen berhasil membuat orang memboikot produk tertentu; dengan demikian mereka menjadi efektif dalam mengubah perilaku perusahaan, memaksakannya untuk mempertimbangkan dampak ekologis dan pola produksinya. Ketika sikap masyarakat berpengaruh ter- hadap pendapatan perusahaan, mereka ini dipaksa untuk mengubah pola produksinya. Ini mengingatkan kita akan tanggung jawab  sosial  para  konsumen:  “Membeli  bukan hanya tindakan ekonomis tetapi selalu tindakan moral”. Kini “masalah kerusakan lingkungan menantang kita memeriksa gaya hidup masing-masing”.

207. Piagam Bumi telah mengundang kita semua me- ninggalkan masa penghancuran diri dan memulai suatu masa baru, tetapi kita belum mengembangkan kesadaran universal yang memungkinkannya. Itulah sebabnya saya berani untuk sekali lagi mengajukan tantangan yang ber- harga ini: “Seperti belum pernah dalam sejarah, nasib kita bersama mengundang kita untuk mencari sebuah awal baru… Mari kita membuat zaman kita diingat dalam sejarah karena bangkitnya penghormatan baru untuk kehidupan, karena tekad kuat untuk mencapai keberlanjutan, karena peningkatan perjuangan demi keadilan dan perdamaian dan karena perayaan kehidupan yang penuh sukacita”.

208. Kita selalu dapat mengembangkan kemampuan baru untuk keluar dari diri sendiri menuju yang Tanpa itu, kita tidak mengakui nilai intrinsik makhluk lain, kita tidak peduli untuk melindungi sesuatu demi orang lain, kita tidak memiliki kemampuan untuk membatasi diri demi menghindari penderitaan atau kerusakan lingkungan kita. Sikap dasar melampaui diri, dengan mendobrak pikiran tertutup dan keterpusatan pada dirinya, adalah akar yang memungkinkan segala perhatian diarahkan kepada orang lain dan lingkungan, dan yang menimbulkan tanggapan moral untuk menghitung dampak setiap tindakan dan keputusan pribadi kita terhadap dunia sekitar kita. Ketika kita mampu mengatasi individualisme, suatu gaya hidup alternatif dapat benar-benar dikembangkan, dan perubahan besar menjadi mungkin dalam masyarakat.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *