Bab 6.9 – MELAMPAUI MATAHARI

Lanjutan Bab 6.

IX. MELAMPAUI MATAHARI

243. Di akhirat kita akan menemukan diri kita berhadapan muka dengan keindahan Allah yang tak terbatas (lihat 1Korintus 13:12), dan dengan kagum dan bahagia, kita akan mampu membaca rahasia alam semesta yang bersama-sama dengan kita akan mengambil bagian dalam kepenuhan yang tak berujung. Ya, kita sedang mengadakan perjalanan menuju Sabat keabadian, ke Yerusalem Baru, menuju ke rumah kita bersama di surga. Yesus berkata, “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” (Wahyu 21:5). Kehidupan kekal akan menjadi sebuah pengalaman bersama yang mengagumkan, di mana setiap makhluk berubah rupa dengan gemerlapan, akan mengambil tempatnya, dan akan memiliki sesuatu untuk dipersembahkan kepada kaum miskin yang telah dibebaskan untuk selamanya.

244. Sementara ini, kita bersatu padu untuk menanggung rumah yang dipercayakan kepada kita, dengan mengetahui bahwa segala yang baik yang ada di dalamnya akan diangkat ke pesta surgawi. Bersama dengan semua makhluk, kita berjalan di bumi  ini  mencari  Allah,  karena  “jika  dunia memiliki awal dan telah diciptakan, kita mencari  Dia  yang telah menciptakannya, kita  mencari  siapa  yang  telah memberikan permulaannya itu, siapa yang    menjadi Penciptanya”. Mari   kita   berjalan   sambil   bernyanyi! Semoga perjuangan dan kepedulian kita untuk planet ini tidak mengambil sukacita pengharapan dari kita.

245. Allah yang memanggil kita kepada suatu komitmen yang murah hati dan rela memberikan segalanya, memberi kita kekuatan dan juga terang yang kita butuhkan untuk bergerak Di tengah dunia ini, Tuhan  kehidupan  yang begitu mengasihi kita, terus hadir. Ia tidak menjauhi kita, Ia tidak meninggalkan kita sendirian, karena Ia telah menyatukan diri-Nya definitif dengan bumi kita, dan kasih- Nya terus-menerus mendorong kita untuk menemukan jalan-jalan baru. Terpujilah Dia!

246. Setelah refleksi panjang yang menyenangkan maupun menegangkan ini saya mengusulkan dua Yang pertama dapat kita bagi dengan semua orang yang percaya kepada Allah, Pencipta yang mahakuasa; sedangkan yang kedua berupa permohonan agar kita, orang Kristen, mampu memegang komitmen kita terhadap ciptaan, sebagaimana ditetapkan untuk kita dalam Injil Yesus.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *