Bab 1 – Rencana Cinta Kasih Allah Bagi Umat Manusia

BAGIAN SATU

“Matra teologis dibutuhkan untuk menafsir maupun untuk memecahkan masalah-masalah aktual dalam masyarakat” (Centesimus Annus, 55)

Bab Satu – Rencana Cinta Kasih Al-lah Bagi Umat Manusia.

I. TINDAKAN PEMBEBASAN ALLAH DI DALAM SEJARAH ISRAEL

a. Kehadiran Allah yang murah hati.

20. Setiap pengalaman religius yang autentik, dalam semua tradisi budaya, mengarah pada suatu intuisi tentang Rahasia yang tidak jarangmampumengenal beberapa segi dari wajah Allah. Di satu pihak, Allah dilihat sebagai asal usul dari segala sesuatu yang ada, sebagai kehadiran yang memberi jaminan bagi kondisi-kondisi dasar kehidupan kepada manusia yang tertata dalam sebuah masyarakat, sambil menyerahkan kepada mereka barang-barang yang mutlak diperlukan. Di lain pihak, Allah tampil sebagai takaran dari apa yang seharusnya, sebagai kehadiran yang menantang tindak-tanduk manusia – baik pada tingkat personal maupun sosial – menyangkut penggunaan barang-barang tadi dalam kaitan dengan orang-orang lain. Oleh karena itu, dalam setiap pengalaman beragama makna penting dikenakan kepada matra karunia dan kemurahan hati, yang dilihat sebagai salah satu unsur pokok dari pengalaman yang dipunyai manusia tentang eksistensi mereka bersama dengan yang lain di dalam dunia ini, dan juga kepada akibat-akibat matra ini pada hati nurani manusia yang merasa bahwa ia dipanggil untuk mengelola secara bertanggung jawab dan bersama dengan orang-orang lain karunia yang diperoleh. Bukti tentang hal ini ditemukan dalam pengakuan secara universal atas kaidah emas yang mengungkapkan pada taraf relasi manusiawi tuntutan yang dialamatkan Sang Rahasia kepada manusia: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12).23

21. Dengan latar belakang pengalaman beragama yang universal, yang dialami umat manusia dalam berbagai macam cara, tampillah secara mencolok pewahyuan progresif Allah tentang diri-Nya sendiri kepada bangsa Israel. Pewahyuan ini menanggapi secara tak tersangkakan dan tiba-tiba pencarian manusia akan yang ilahi, berkat corak historis – yang mencolok lagi menerobos
– di mana cinta kasih Allah untuk manusia dijadikan nyata. Menurut Kitab Keluaran, Tuhan menyampaikan kata-kata ini kepada Musa: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah- pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya” (Kel 3:7- 8). Kehadiran Allah yang murah hati – sebagaimana yang dirujuk oleh nama-Nya sendiri, nama yang Ia wahyukan kepada Musa, “Aku adalah Aku” (Kel 3:14) – dinyatakan dalam pembebasan dari perbudakan dan dalam janji. Semuanya ini menjadi tindakan historis yang menjadi muasal dari cara dalamnya umat Tuhan secara bersama-sama membentuk jati diri mereka sendiri, melalui pemerolehan kemerdekaan dan tanah yang diberikan Tuhan kepada mereka.

22. Kemurahan tindakan ilahi yang manjur secara historis ini dibarengi oleh komitmen kepada perjanjian yang disampaikan Allah dan diterima Israel. Di Gunung Sinai prakarsa Allah itu menjadi nyata dalam perjanjian dengan umat-Nya, yang kepada mereka diberikan Dekalog perintah yang diwahyukan oleh Allah (bdk. Kel 19-24). “Kesepuluh Firman” (Kel 34:28; bdk. Ul 4:13) “mengatakan apa yang harus dilakukan berdasarkan hubungan dengan Allah yang diadakan melalui perjanjian. Pelaksanaan hidup kesusilaan adalah jawaban atas prakarsa Allah yang penuh kasih. Pelaksanaan tersebut adalah pengakuan, pemberian hormat dan syukur kepada Allah. Pelaksanaan tersebut adalah kerja sama dalam rencana yang Allah laksanakan dalam sejarah.”
Kesepuluh Firman, yang merupakan sebuah lorong kehidupan yang luar biasa serta menunjukkan jalan paling pasti untuk hidup dalam kemerdekaan dari perbudakan dosa, mengungkapkan kandungan hukum kodrati secara luar biasa bagus. Kesepuluh Firman itu “mengajarkan kepada kita kodrat manusia yang sebenarnya. Perintah-perintah itu menampilkan kewajiban-kewajiban hakiki, dan dengan demikian juga secara tidak langsung hak-hak asasi yang ada di dalam kodrat manusia.”25 Kesepuluh Firman itu menerangkan moralitas universal manusia. Dalam Injil, Yesus mengingatkan si pemuda kaya bahwa Kesepuluh Firman itu (bdk. Mat 19:18) “merupakan aturan-aturan yang mutlak diperlukan untuk semua kehidupan sosial”.

23. Dari Dekalog muncul sebuah komitmen yang tidak saja bersangkut paut dengan kesetiaan kepada Allah esa yang benar, tetapi juga relasi-relasi sosial di antara umat perjanjian. Relasi-relasi ini diatur secara khusus oleh apa yang disebut sebagai hak kaum miskin: “Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu … maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan” (Ul 15:7-8). Semuanya ini berlaku pula untuk orang-orang asing: “Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah Tuhan, Allahmu” (Im 19:33-34). Karunia kemerdekaan dan tanah terjanji, serta karunia perjanjian di Sinai dan Kesepuluh Firman karenanya berkaitan secara erat dengan praktik- praktik yang mesti mengatur perkembangan masyarakat Israel dalam keadilan dan solidaritas.

24. Di antara banyak kaidah yang hendak memberi bentuk konkret pada gaya kemurahan hati dan berbagi dalam keadilan yang diilhami Allah, hukum tahun sabatikal (yang dirayakan setiap tujuh tahun) serta hukum tahun yubileum (yang dirayakan setiap 50 tahun) tampil secara mencolok sebagai dua pedoman terpenting – yang sayangnya tidak pernah diberlakukan sepenuhnya secara historis – untuk kehidupan sosial dan ekonomi bangsa Israel. Selain menuntut agar ladang-ladang dibiarkan dan ditinggalkan begitu saja, kedua hukum ini menuntut penghapusan utang serta pembebasan umum atas orang dan barang: setiap orang bebas untuk kembali ke keluarga asalnya dan memperoleh kembali harta benda yang menjadi hak warisnya.
Perundang-undangan ini dirancang untuk menjamin bahwa peristiwa penyelamatan Eksodus serta kesetiaan kepada perjanjian tidak saja menyajikan prinsip dasar tentang kehidupan Israel di bidang sosial, politik dan ekonomi, tetapi juga prinsip untuk menyelisik persoalan-persoalan tentang kemiskinan ekonomi dan ketidakadilan sosial. Prinsip ini dipakai guna membarui secara terus- menerus dan dari dalam kehidupan bangsa perjanjian agar kehidupan tersebut bersepadanan dengan rencana Allah. Guna menghapus diskri- minasi dan ketimpangan ekonomi yang disebabkan oleh berbagai perubahan sosio-ekonomi maka setiap tujuh tahun kenangan akan Eksodus dan perjanjian diterjemahkan ke dalam ranah sosial dan hukum agar paham tentang kemiskinan, utang-piutang, pinjaman serta barang dikembalikan ke maknanya yang paling dalam.

25. Aturan tentang tahun sabatikal dan tahun yubileum adalah semacam ajaran sosial dalam bentuk miniatur. Aturan-aturan tersebut memperlihatkan prinsip keadilan dan prinsip solidaritas sosial yang diilhami oleh kemurahan peristiwa keselamatan yang didatangkan oleh Allah, dan aturan-aturan itu tidak hanya memiliki nilai korektif atas praktik-praktik yang didominasi oleh berbagai kepentingan dan maksud egoistik, tetapi juga mesti menjadi, sebagai suatu nubuat tentang masa depan, titik rujukan normatif padanya setiap generasi di Israel mesti menyesuaikan dirinya kalau mereka ingin untuk tetap setia kepada Allah.
Prinsip-prinsip ini menjadi pusat pengajaran para nabi yang berupaya membatinkannya. Roh Allah, yang dicurahkan ke dalam hati manusia
– dengan warta para nabi – akan menjadikan pemahaman yang serupa tentang keadilan dan solidaritas, yang bersemayam di dalam hati Tuhan, mengakar pula di dalam diri manusia (bdk. Yer 31:33; Yeh 36:26-27). Maka, kehendak Allah yang dirumuskan dalam Dekalog yang diberikan di Sinai akan mampu mengakar secara kreatif dalam lubuk batin manusia yang paling dalam. Proses pembatinan ini menyeruakkan kedalaman yang lebih besar dan realisme di dalam aksi sosial, sembari memungkinkan universalisasi progresif dari perilaku keadilan dan solidaritas yang mesti ditunjukkan bangsa perjanjian itu kepada semua orang dari setiap suku dan bangsa.

b. Prinsip penciptaan dan tindakan Allah yang murah hati
26. Refleksi para nabi dan guru Kebijaksanaan menemukan manifestasi per- tama dan sumber rencana Allah bagi segenap umat manusia ketika mereka me- rumuskan prinsip bahwa segala sesuatu diciptakan Allah. Seturut pengakuan iman Israel, menegaskan bahwa Allah adalah Pencipta tidak semata- mata berarti mengungkapkan sebuah keyakinan teoretis, tetapi juga merangkum keluasan asali tindakan Tuhan yang murah hati dan penuh rahmat demi kepentingan manusia. Malah Allah secara bebas mengaruniakan keberadaan dan kehidupan kepada segala sesuatu yang ada. Manusia yang diciptakan seturut gambar dan rupa Allah (bdk. Kej 1:26-27) oleh karena alasan itu dipanggil untuk menjadi tanda yang kelihatan serta sarana yang efektif dari kemurahan hati ilahi di taman di mana Allah telah menempatkan mereka sebagai pengelola dan penjaga kebaikan ciptaan.

27. Di dalam tindakan bebas Allah sang pencipta itulah kita menemukan makna terdalam ciptaan bahkan apabila ciptaan itu telah dikacaukan oleh pengalaman dosa. Malah kisah tentang dosa pertama (bdk. Kej 3:1-24) melukiskan godaan permanen serta situasi kacau di mana umat manusia menemukan dirinya setelah kejatuhan para leluhur mereka. Ketidaktaatan kepada Allah berarti menyembunyikan diri dari wajah-Nya yang penuh kasih dan berupaya mengendalikan hidup dan tindakannya sendiri di dalam dunia ini. Pemutusan relasi persekutuan dengan Allah menyebabkan suatu perpecahan di dalam kesatuan batin pribadi manusia, di dalam relasi persekutuan di antara manusia serta relasi yang harmonis antara umat manusia dan makhluk ciptaan lainnya.29 Justru di dalam keterasingan asali inilah mesti dicari akar-akar terdalam dari semua kejahatan yang merundung relasi-relasi sosial antarpribadi, dari semua situasi di dalam kehidupan ekonomi dan politik yang menyerang martabat pribadi, yang memperkosa keadilan dan solidaritas.

 

II. YESUS KRISTUS, KEPENUHAN RENCANA CINTA KASIH BAPA.

a. Dalam Yesus Kristus terpenuhilah peristiwa yang menentukan dalam sejarah antara Allah dan umat manusia.

28. Kebajikan serta belas kasih yang mengilhami tindakan Allah dan menjadi kunci untuk memahaminya menjadi sedemikian dekat kepada manusia sehingga kebajikan serta belas kasih itu mendapat bentuk dalam ciri pembawaan manusia Yesus, Firman yang menjadi daging. Dalam Injil Santo Lukas, Yesus men- jelaskan pelayanan mesianik-Nya dengan memakai kata-kata Yesaya yang menggemakan makna profetik dari tahun yubileum: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4:18-19; bdk. Yes 61:-12). Oleh karena itu, Yesus menempatkan diri-Nya sendiri pada garis depan pemenuhan, bukan hanya karena Ia menggenapi apa yang sudah dijanjikan dan apa yang dinantikan selama ini oleh Israel, melainkan juga dalam arti yang lebih dalam, yaitu bahwa di dalam Dia tergenapilah peristiwa yang menentukan dalam sejarah antara Allah dan umat manusia. Ia menandaskan: “Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” (Yoh 14:9). Dengan kata lain, Yesus adalah perwujudan yang kasatmata serta definitif tentang bagaimana Allah bertindak terhadap manusia.

29. Cinta Kasih yang mengilhami pelayanan Yesus di antara manusia adalah cinta kasih yang Ia alami dalam persekutuan-Nya yang mesra dengan Bapa. Perjanjian Baru memperkenankan kita masuk secara menukik ke dalam pengalaman yang Yesus sendiri hayati dan komunikasikan, yakni cinta kasih Allah Bapa-Nya – “Sang Abba” – dan karenanya memungkinkan kita juga untuk masuk ke dalam jantung terdalam kehidupan ilahi. Yesus memaklumkan belas kasih Allah yang membebaskan kepada orang-orang yang Ia jumpai dalam perjalanan-Nya, bermula dengan kaum miskin, yang tertindas, orang-orang berdosa. Ia mengundang semua orang untuk mengikuti Dia karena Ia adalah orang pertama yang menaati rencana cinta kasih Allah, dan Ia melakukan hal itu secara sangat istimewa sebagai utusan Allah di dunia ini.
Kesadaran diri Yesus sebagai Sang Anak adalah sebuah bentuk ungkapan dari pengalaman primordial ini. Kepada Sang Anak telah diberikan segala sesuatu, dan diberikan secara bebas, oleh Bapa: “Segala sesuatuyang Bapa punya, adalahAku punya” (Yoh 16:15). Pada gilirannya, tugas perutusan Yesus ialah menjadikan semua orang ambil bagian dalam karunia ini dalam relasi keputraan ini: “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yoh 15:15).
Bagi Yesus, mengenal dan mengakui cinta kasih Bapa berarti mencontohi tindakan-tindakan-Nya mengenai kemurahan hati dan belas kasih Allah; kedua hal inilah yang menciptakan hidup baru. Artinya, menjadi – berkat keberadaan- Nya itu sendiri – contoh dan teladan tentang hal itu bagi para murid-Nya. Para pengikut Yesus dipanggil untuk hidup sama seperti Dia dan, setelah Paskah kematian dan kebangkitan-Nya mereka dipanggil untuk hidup di dalam Dia dan oleh Dia, berkat karunia berlimpah ruah dari Roh Kudus, Sang Penghibur, yang membatinkan gaya hidup Kristus sendiri di dalam hati manusia.

b. Pewahyuan cinta kasih Allah Tritunggal
30. Dengan kekaguman yang tiada habis-habisnya dari orang-orang yang telah mengalami cinta kasih Allah yang tak terucapkan (bdk. Rm 8:26), Perjanjian Baru menangkap, dalam terang pewahyuan penuh cinta kasih Allah Tritunggal yang disajikan oleh Paskah Yesus Kristus, makna tertinggi penjelmaan Sang Putra serta tugas perutusan-Nya di antara manusia. Santo Paulus menulis: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Rm 8:31-32). Bahasa serupa digunakan pula oleh Santo Yohanes: “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1Yoh 4:10).
31. Wajah Allah, yang secara progresif diwahyukan dalam sejarah keselamatan, bersinar secara penuh dalam wajah Yesus Kristus yang disalibkan dan bangkit dari antara orang-orang mati. Allah itu Tritunggal: Bapa, Putra dan Roh Kudus; benar-benar berbeda dan benar-benar esa, karena Allah adalah sebuah persekutuan cinta kasih yang tiada terbatas. Cinta kasih Allah yang murah hati untuk umat manusia diwahyukan, sebelum segala sesuatu yang lain, sebagai cinta kasih yang berasal dari Bapa, dari Dia segala sesuatu memperoleh sumbernya; sebagai komunikasi bebas yang dijadikan Sang Putra melalui cinta kasih ini, seraya menyerahkan diri-Nya secara baru kepada Bapa dan memberi diri-Nya bagi umat manusia; sebagai buah yang selalu baru dari cinta kasih ilahi yang dicurahkan Roh Kudus ke dalam hati manusia (bdk. Rm 5:5).
Oleh perkataan dan perbuatan-Nya, dan secara sepenuhnya dan secara definitif oleh kematian dan kebangkitan-Nya,30 Yesus mewahyukan kepada umat manusia bahwa Allah adalah Bapa dan bahwa kita semua dipanggil oleh rahmat untuk menjadi anak-anak-Nya di dalam Roh (bdk. Rm 8:15; Gal 4:6), dan karenanya menjadi saudara dan saudari di antara kita sendiri. Oleh karena alasan inilah maka Gereja secara kokoh meyakini bahwa “kunci, pusat dan tujuan seluruh sejarah manusia terdapat pada Tuhan dan Gurunya”.31
32. Ketika merenungkan kemurahan hati dan keberlimpahruahan karunia ilahi Bapa, berupa Sang Anak, yang diwartakan dan disaksikan Yesus dengan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, Rasul Yohanes menangkap maknanya yang mendasar serta konsekuensinya yang paling logis: “Saudara-saudariku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih- Nya sempurna di dalam kita” (1Yoh 4:11-12). Ketimbalbalikan cinta kasih dituntut oleh perintah yang diterangkan Yesus sebagai perintah “baru” dan perintah-“Nya”: “Supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh 13:34). Perintah untuk saling mengasihi menunjukkan bagaimana menghayati di dalam Kristus kehidupan Allah Tritunggal di dalam Gereja, Tubuh Kristus, dan bagaimana membarui sejarah sampai mencapai kepenuhannya dalam Yerusalem surgawi.
33. Perintah untuk saling mengasihi, yang menyajikan hukum kehidupan bagi umat Allah,32 mesti mengilhami, memurnikan dan meninggikan semua relasi manusiawi di tengah masyarakat dan di dalam bidang politik. “Menjadi manusia berarti dipanggil kepada persekutuan antarpribadi,”33 karena gambar dan keserupaan Allah Tritunggal merupakan landasan dari seluruh “‘etos’ manusia yang mencapai puncaknya dalam hukum cinta kasih”.34 Fenomena modern berupa saling ketergantungan di bidang budaya, sosial, ekonomi dan politik yang mengintensifkan dan menjadikan sangat gamblang berbagai ikatan yang mempersatukan keluarga umat manusia, yang sekali lagi menekankan, dalam terang pewahyuan, “pola baru kesatuan umat manusia, yang pada akhirnya harus mengilhami solidaritas kita. Pola kesatuan yang amat luhur itu, yang mencerminkan kehidupan batin Allah, satu Allah dalam tiga pribadi, itulah yang kita maksudkan sebagai umat Kristen, kalau kita gunakan istilah ‘communio’.”35

III. PRIBADI MANUSIA DALAM RENCANA CINTA KASIH ALLAH

a. Cinta kasih Allah Tritunggal, asal usul dan tujuan pribadi manusia
34. Pewahyuan di dalam Kristus rahasia Allah sebagai cinta kasih Trinitaris pada saat yang sama merupakan pewahyuan tentang panggilan pribadi manusia untuk mengasihi. Pewahyuan ini memberi terang pada setiap segi martabat pribadi serta kebebasan manusia, dan tentang kedalaman hakikat sosialnya. “Menjadi seorang pribadi menurut gambar dan rupa Allah juga menyangkut keberadaan dalam sebuah relasi, dalam relasi terhadap ‘Aku’ yang lain,”36 karena Allah sendiri, yang esa dan tritunggal, adalah persekutuan Bapa, Putra dan Roh Kudus.
Dalam persekutuan cinta kasih yang adalah Allah, dan di dalamnya Ketiga Pribadi Ilahi mengasihi satu sama lain sambil merupakan Allah yang esa, pribadi manusia dipanggil untuk menemukan asal dan tujuan dari eksistensinya dan dari sejarah. Para Bapa Konsili, dalam Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, mengajarkan bahwa “ketika Tuhan Yesus Kristus berdoa kepada Bapa ‘supaya mereka semua menjadi satu … sama seperti Kita adalah satu’ (Yoh 15:21-22), dan membuka cakrawala yang tidak terjangkau oleh akal budi manusia, ia mengisyaratkan kemiripan antara persatuan Pribadi- Pribadi Ilahi dan persatuan putra-putri Allah dalam kebenaran dan cinta kasih. Keserupaan itu menampakkan bahwa manusia yang di dunia ini merupakan satu-satunya makhluk yang oleh Allah dikehendaki demi dirinya sendiri tidak menemukan diri sepenuhnya tanpa dengan tulus hati memberikan dirinya (bdk. Luk 17:33).”37
35. Pewahyuan Kristen memancarkan sebuah terang baru tentang jati diri, panggilan serta nasib akhir pribadi manusia dan bangsa manusia. Setiap pribadi diciptakan oleh Allah, dikasihi dan diselamatkan dalam Yesus Kristus, dan menggenapi dirinya dengan menciptakan sebuah jejaring