Bab 1.4. RENCANA ALLAH DAN TUGAS PERUTUSAN GEREJA

BAB 1

IV. RENCANA ALLAH DAN TUGAS PERUTUSAN GEREJA.

a. Gereja, tanda dan perlindungan transendensi pribadi manusia
49. Gereja, persekutuan orang-orang yang dipersatukan oleh Kristus yang bangkit dan yang telah diperintahkan untuk mengikuti Dia, adalah “tanda dan perlindungan transendensi pribadi manusia”.54 Gereja itu “dalam Kristus bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persekutuan dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia”.55 Perutusannya ialah mewartakan dan memaklumkan keselamatan yang dibawa oleh Yesus Kristus, yang Ia sebut “Kerajaan Allah” (Mrk 1:15), yakni persekutuan dengan Allah dan di antara manusia. Sasaran keselamatan, yakni Kerajaan Allah, merangkul semua orang dan diwujudkan sepenuhnya di balik sejarah, yaitu di dalam Allah. Gereja telah menerima “tugas perutusan untuk mewartakan Kerajaan Kristus dan Kerajaan Allah, dan mendirikannya di tengah semua bangsa. Gereja merupakan benih dan awal mula Kerajaan itu di dunia”.

50. Gereja menempatkan dirinya secara konkret pada pengabdian bagi Kerajaan Allah terutama nian dengan memaklumkan dan mewartakan Injil keselamatan dan dengan mendirikan jemaat-jemaat Kristen yang baru. Lebih dari itu, ia “melayani Kerajaan Allah dengan menyebarluaskan ke seluruh dunia ‘nilai-nilai Injil’ yang merupakan ungkapan Kerajaan itu dan yang membantu orang menerima rencana Allah. Benar bahwa realitas Kerajaan itu pada tahap awal dapat juga ditemukan di luar batas-batas Gereja diantara para bangsa di mana-mana, sejauh bahwa mereka menghayati ‘nilai-nilai Injil’dan terbuka pada tindakan-tindakan Roh yang berhembus pada dan ke mana saja Ia kehendaki (bdk. Yoh 3:8). Namun harus segera ditambahkan bahwa matra lahiriah Kerajaan itu tetaplah tidak lengkap jika ia tidak dihubungkan dengan Kerajaan Kristus yang hadir di dalam Gereja dan yang sedang bersusah payah berjuang menuju kepenuhan eskatologis.”57 Dari sini khususnya bisa disimpulkan bahwa Gereja tidak boleh dicampuradukkan dengan masyarakat politik dan tidak terikat pada sistem politik yang mana pun.58 Malah masyarakat politik dan Gereja bercorak otonom dan tidak saling tergantung dalam bidangnya masing-masing, dan keduanya, biarpun atas dasar yang berbeda, “melayani panggilan pribadi dan sosial orang-orang yang sama”.59 Malah dapat ditegaskan bahwa pemilahan antara agama dan politik serta prinsip-prinsip kebebasan beragama merupakan sebuah pencapaian istimewa Kekristenan dan merupakan salah satu andilnya yang sangat mendasar secara historis dan kultural.

51. Menurut rencana Allah yang dilaksanakan di dalam Kristus, terdapat kesepadanan antara jati diri serta tugas perutusan Gereja di dalam dunia dan “sebuah tujuan penyelamatan yang eskatologis, yang hanya dapat tercapai sepenuhnya pada zaman yang akan datang”.60 Justru karena alasan ini maka Gereja memberi sebuah sumbangan yang asali dan tak tergantikan melalui keprihatinan yang mendesak untuk menjadikan keluarga umat manusia beserta sejarahnya lebih manusiawi lagi, seraya mendorongnya untuk menempatkan dirinya sebagai sebuah kubu baluarti menentang setiap godaan totaliter, ketika ia menunjukkan kepada manusia panggilannya yang terpadu dan pasti.
Berkat pengajarannya tentang Injil, rahmat sakramen-sakramenserta pengalaman tentang persekutuan persaudaraan, Gereja “menyembuhkan dan mengangkat pribadi manusia, dengan meneguhkan keseluruhan masyarakat manusia dan dengan memberi makna serta arti yang lebih mendalam kepada kegiatan sehari-hari manusia”. Oleh karena itu, pada taraf dinamika historis konkret kedatangan Kerajaan Allah tidak dapat dipindai seturut perspektif sebuah organisasi sosial, ekonomi dan politik yang dideterminasi dan dapat ditentukan dengan pasti. Sebaliknya, Kerajaan itu dilihat dalam perkembangan sebuah cita rasa sosial yang manusiawi, yang bagi umat manusia merupakan ragi untuk menggapai keutuhan keadilan dan solidaritas dalam keterbukaan kepada Yang Transenden sebagai sebuah titik acuan bagi kepenuhan pribadinya yang definitif.

b. Gereja, Kerajaan Allah dan pembaruan relasi-relasi sosial.

52. Allah, di dalam Kristus, tidak hanya menyelamatkan pribadi orang perorangan tetapi juga relasi-relasi sosial yang ada di antara manusia. Seperti yang diajarkan Rasul Paulus, kehidupan di dalam Kristus menjadikan jati diri dan cita rasa sosial pribadi manusia – beserta berbagai konsekuensi konkretnya dalam ranah sejarah dan sosial – tampil sepenuhnya dan dalam sebuah cara baru: “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal 3:26-28). Seturut perspektif ini, jemaat-jemaat gerejawi, yang dipersatukan oleh amanat Yesus Kristus dan dikumpulkan di dalam Roh Kudus di seputar Tuhan yang bangkit (bdk. Mat 18:20, 28:19-20; Luk 24:46-49), menawarkan diri mereka sendiri sebagai tempat persekutuan, kesaksian dan tugas perutusan, dan sebagai katalisator bagi penebusan dan pembaruan relasi-relasi sosial.

53. Pembaruan relasi-relasi sosial yang tanggap terhadap tuntutan-tuntutan Kerajaan Allah tidak dimapankan dalam tapal-tapal batas yang konkret sekali untuk selama-lamanya. Sebaliknya, itu adalah sebuah tugas yang dipercayakan kepada jemaat Kristen, yang harus mengembangkannya dan melaksanakannya melalui refleksi dan praksis yang diilhami Injil. Roh Tuhan yang sama itulah, yang membimbing umat Allah sembari pada saat yang sama memenuhi seluruh muka bumi, yang dari waktu ke waktu mengilhami cara-cara baru lagi cocok untuk umat manusia guna melaksanakan tanggung jawab kreatifnya. Ilham ini diberikan kepada jemaat Kristen yang adalah bagian dari dunia dan sejarah, dan karenanya terbuka untuk berdialog dengan semua orang yang berkehendak baik dalam ikhtiar bersama mencari benih-benih kebenaran dan kemerdekaan yang ditaburkan di ladang luas umat manusia. Dinamika pembaruan ini mesti secara kokoh dijangkarkan pada prinsip-prinsip hukum kodrati yang tidak dapat diubah, yang dituliskan oleh Allah Sang Pencipta dalam setiap makhluk ciptaannya (bdk. Rm 2:14-15), dan bermandikan cahaya eskatologis melalui Yesus Kristus.

54. YesusKristusmenyatakankepadakitabahwa“Allahadalahkasih”(1Yoh4:8), dan Ia mengajarkan kepada kita bahwa “hukum asasi kesempurnaan manusiawi dan karena itu juga pembaruan dunia adalah perintah baru cinta kasih. Maka Ia meyakinkan semua yang percaya akan cinta kasih Allah bahwa jalan cinta kasih terbuka bagi semua orang, dan bahwa usaha untuk membangun persaudaraan universal tidak akan percuma.”66 Hukum ini diserukan untuk menjadi takaran serta kaidah tertinggi dari setiap dinamika yang berkaitan dengan relasi-relasi manusia. Singkatnya, rahasia Allah itu sendirilah, yakni Cinta Kasih Allah Tritunggal, yang menjadi pijakan makna dan nilai pribadi, relasi-relasi sosial, kegiatan manusia di tengah dunia, sejauh umat manusia telah menerima pewahyuan tentang hal ini dan ambil bagian di dalamnya melalui Kristus di dalam Roh-Nya.

55. Pembaruan dunia merupakan sebuah persyaratan yang hakiki untuk zaman kita juga. Terhadap kebutuhan ini Magisterium sosial Gereja bermaksud untuk memaparkan tanggapan-tanggapan yang dituntut oleh tanda-tanda zaman, sembari menunjuk terutama nian pada cinta kasih timbal balik di antara makhluk insani, dalam pandangan Allah, sebagai sarana yang paling ampuh bagi perubahan, pada taraf personal dan sosial. Malah cinta kasih timbal balik, yang ambil bagian dalam cinta kasih Allah yang tidak terbatas, adalah tujuan autentik manusia, baik secara historis maupun transenden. Oleh karena itu, “kemajuan duniawi harus dengan cermat dibedakan dari pertumbuhan Kerajaan Kristus, namun kemajuan itu sangat penting bagi Kerajaan Allah sejauh dapat membantu untuk mengatur masyarakat manusia secara lebih baik.”

c. Langit baru dan bumi baru.

56. Janji Allah dan kebangkitan Yesus Kristus menerbitkan di dalam diri orang-orang Kristen harapan yang kokoh bahwa sebuah tempat tinggal yang baru dan kekal disiapkan untuk setiap pribadi manusia, sebuah bumi yang baru di mana keadilan berdiam (bdk. 2Kor 5:1-2; 2Ptr 3:13). “Pada saat itu maut akan dikalahkan, putra-putri Allah akan dibangkitkan dalam Kristus, dan benih yang telah ditaburkan dalam kelemahan dan kebinasaan akan mengenakan yang tidak dapat binasa. Cinta kasih beserta karyanya akan lestari, dan segenap alam tercipta, yang oleh Allah telah diciptakan demi manusia, akan dibebaskan dari perbudakan kepada kesia-siaan.”68 Harapan ini, alih-alih melemah, mesti sebaliknya memperkokoh kepedulian terhadap karya yang dibutuhkan dalam realitas dewasa ini.

57. Hal-hal yang baik – seperti martabat manusia, persaudaraan dan kebebasan, semua buah hasil yang baik dari kodrat dan upaya manusia – yang di dalam Roh Tuhan dan seturut perintah-Nya telah disebarluaskan ke seantero bumi, setelah dimurnikan dari setiap cacat cela, diterangi dan diubahrupakan, masuk ke dalam Kerajaan kebenaran dan kehidupan, Kerajaan kesucian dan rahmat, Kerajaan keadilan, cinta kasih dan perdamaian yang akan dipersembahkan Kristus kepada Bapa, dan di sanalah pula kita akan sekali lagi menemukan hal-hal yang baik itu. Kata-kata Kristus dalam segenap kebenarannya yang agung akan sekali lagi bergema bagi semua orang: “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku … segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:34-36,40).

58. Pemenuhan paripurna pribadi manusia, yang dicapai di dalam Kristus melalui karunia Roh, berkembang dalam sejarah dan diperantarai oleh relasi-relasi pribadi dengan orang-orang lain, suatu relasi yang pada gilirannya mencapai kesempurnaan berkat komitmen yang dibuat untuk memperbaiki dunia ini dalam keadilan dan perdamaian. Kegiatan manusia di tengah sejarah dalam dirinya penting dan efektif bagi pembentukan Kerajaan secara definitif, walaupun hal itu tetap merupakan karunia bebas dari Allah, yang seluruhnya transenden. Kegiatan dimaksud, bila menghormati tatanan objektif dari realitas duniawi dan diterangi oleh kebenaran dan cinta kasih, menjadi sebuah sarana untuk membuat keadilan dan perdamaian tampil secara lebih penuh dan terpadu, seraya menantikan pada zaman ini Kerajaan yang dijanjikan itu.
Dengan menyesuaikan dirinya kepada Kristus Sang Penebus, manusia memahami dirinya sendiri sebagai makhluk yang dikehendaki Allah dan dipilih oleh-Nyasejak kekal, yang dipanggil untuk menerimarahmat dan kemuliaandalam segala kepenuhan rahasia yang mengikut-sertakannya di dalam Yesus Kristus.69 Dengan menyesuaikan dirinya kepada Kristus dan mengkontemplasi wajah-Nya70 tertanamlah di dalam diri orang-orang Kristen suatu kerinduan yang tak dapat dihilangkan untuk mengecap di dalam dunia ini, dalam konteks relasi-relasi manusia, apa yang akan menjadi sebuah kenyataan dalam dunia definitif yang akan datang; begitulah orang- orang Kristen berjuang untuk memberi makanan, minuman, pakaian, perlindungan, perawatan, penyambutan dan penyertaan kepada Tuhan yang mengetuk pintu (bdk. Mat 25:35-37).

d. Maria dan “fiat”-nya dalam rencana cinta kasih Allah
59. Ahli waris harapan orang benar di Israel dan yang pertama di antara para murid Yesus Kristus adalah Maria, ibu-Nya. Oleh “fiat”-nya kepada rencana cinta kasih Allah (bdk. Luk 1:38), atas nama segenap umat manusia, Maria menerima dalam sejarah Dia yang diutus oleh Bapa, Sang Penebus umat manusia. Dalam Magnifikat-nya Maria mewartakan penantian rahasia keselamatan, kedatangan “Mesias kaum miskin” (bdk. Yes 11:4; 61:1). Allah Perjanjian, yang dimuliakan oleh Perawan dari Nazaret dalam madah kidung tatkala rohnya bersukacita, adalah Dia yang menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang- orang yang rendah, yang melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa serta memperlihatkan rahmat-Nya kepada orang yang takut akan Dia (bdk. Luk 1:50-53).
Sambil memandang ke dalam hati Maria, ke kedalaman imannya yang terungkap dalam kata-kata Magnifikat, para murid Kristus dipanggil untuk membarui secara lebih penuh di dalam diri mereka “kesadaran bahwa kebenaran tentang Allah yang menyelamatkan, kebenaran tentang Allah yang menjadi sumber setiap karunia, tidak dapat dipisahkan dari perwujudan cinta kasih-Nya yang mengutamakan kaum miskin dan yang lemah, yaitu cinta kasih yang dipuji dalam Magnifikat, dan kemudian dinyatakan dalam kata dan karya Yesus.” Maria seluruhnya bergantung pada Allah dan secara total terarahkan kepada-Nya oleh dorongan imannya. Maria adalah “citra paling sempurna dari kebebasan dan pembebasan umat manusia dan alam semesta”.