Bab 3.2 – GLOBALISASI PARADIGMA TEKNOKRATIS

Lanjutan Bab 3.

II. GLOBALISASI PARADIGMA TEKNOKRATIS

106. Masalah mendasar  lain  yang  lebih  mendalam  ialah cara manusia mengadopsi teknologi dan perkembangannya dengan paradigma yang seragam dan hanya dari satu sudut pandang. Model ini mengagungkan konsep subjek yang, dengan menggunakan prosedur yang logis dan rasional, langkah demi langkah mendekati dan mengontrol objek yang ada di luar. Subjek berusaha mengembangkan metode ilmiah dengan eksperimen-eksperimen yang sudah jelas merupakan teknik kepemilikan, penguasaan, dan transformasi. Seolah-olah subjek berada di hadapan sesuatu yang belum berbentuk, sepenuhnya tersedia untuk dimanipulasi. Manusia selalu campur tangan atas alam, tetapi untuk waktu yang lama aktivitas itu berciri mendukung sambil menyesuaikan diri pada kemungkinan yang ditawarkan oleh benda-benda alam sendiri. Manusia menerima apa yang diizinkan oleh kenyataan alam sendiri, yang sepertinya mengulurkan tangannya. Kini, sebaliknya campur tangan manusia berniat memeras sebanyak mungkin segala benda, sambil mengabaikan atau melupakan kenya- taan yang ada di depannya. Itulah sebabnya manusia dan benda-benda alam tidak lagi ramah saling mengulurkan tangan; hubungan telahmenjadi konfrontatif. Dari situ orang dengan mudah menerima gagasan pertumbuhan tanpa batas, yang telah menggairahkan banyak ekonom, pemodal, dan teknolog. Gagasan itu didasarkan pada kebohongan tentang persediaan sumber daya alam yang tak terbatas, yang menyebabkan planet ini diperas habis-habisan. Ada asumsi yang salah bahwa “persediaan energi dan sumber daya itu tak terbatas untuk dimanfaatkan, bahwa regenerasinya terjadi dengan cepat, dan bahwa efek-efek negatif dari manipulasi tatanan alam dengan mudah dapat diserap”.

107.  Dapat dikatakan  bahwa  akar  banyaknya  masalah dunia saat ini terutama kecenderungan, yang tidak selalu disadari, untuk menjadikan metode dan tujuan ilmu-ilmu teknik sebagai paradigma pemahaman yang dipaksakan bagi kehidupan individu  dan  cara  kerja  masyarakat.  Efek dari penerapan paradigma itu pada seluruh realitas, manusia dan masyarakat, menjadi nyata dalam degradasi lingkungan, tetapi itu hanya satu tanda dari reduksionisme yang mempengaruhi kehidupan manusia dan masyarakat dalam semua dimensinya. Perlu diakui bahwa produk- produk teknologi tidak netral karena mereka menciptakan kerangka kerja yang pada akhirnya membentuk gaya hidup, dan mengarahkan peluang-peluang dalam masyarakat ke arah kepentingan kelompok-kelompok berkuasa tertentu. Beberapa pilihan yang tampaknya hanya mengenai peralatan, dalam kenyataannya, adalah pilihan tentang jenis kehidupan sosial yang ingin dikembangkan.

108. Ide untuk mempertahankan paradigma budaya yang berbeda dan menggunakan teknologi hanya sebagai ins- trumen, saat ini tak terbayangkan. Paradigma teknologi sudah menjadi begitu dominan sehingga akan sangat sulit untuk mengabaikan segala sumber dayanya, dan lebih sulit lagi untuk menggunakannya tanpa didominasi oleh pola pikirnya. Telah menjadi tindakan kontra-budaya untuk memilih gaya hidup dengan tujuan-tujuan yang dapat, setidaknya sebagian, independen dari teknologi, dari biaya, dan dari kuasa yang menjadikan segalanya global dan massal. Sesungguhnya, teknologi cenderung menyerap segala sesuatu ke dalam logikanya yang ketat, dan mereka yang hidup di tengah teknologi “tahu benar bahwa apa yang pada akhirnya diperjuangkan dalam bidang ini bukanlah manfaat, dan bukanlah kesejahteraan umat manusia, tetapi dominasi: suatu dominasi dalam arti yang paling ekstrem dari kata itu”.87   Untuk itu “orang berusaha merebut segala unsur  alam  dan  kehidupan  manusia”.88   Kemampuan  kita untuk membuat keputusan, kebebasan yang paling otentik, dan ruang untuk suatu kreativitas alternatif masing-masing orang, sudah berkurang.

109. Paradigma teknokratis juga cenderung untuk men- dominasi bidang ekonomi dan Ekonomi menerima setiap kemajuan teknologi yang membawa keuntungan, tanpa memperhatikan kemungkinan dampak negatif bagi manusia. Dunia keuangan melemahkan ekonomi riil. Kita belum belajar dari krisis keuangan global, dan kita terlambat belajar dari kerusakan lingkungan. Beberapa kalangan mempertahankan pandangan bahwa ekonomi dan teknologi sekarang ini akan menyelesaikan semua masalah lingkungan. Demikian pula, dikatakan, dalam bahasa yang kurang akademis, bahwa masalahkelaparandankemiskinan di dunia akan diselesaikan melalui pertumbuhan pasar saja. Ini bukan soal keabsahan teori ekonomi yang mungkin saat ini tidak seorang pun berani pertahankan, tetapi soal penerapannya dalam pengembangan ekonomi. Mereka yang mungkin tidak mengiakan teori tersebut dengan kata- kata, tetap mendukungnya dengan perbuatan yang tidak menunjukkan perhatian pada tingkat produksi yang lebih seimbang, distribusi kekayaan yang lebih baik, kepedulian terhadap lingkungan, dan hak-hak generasi mendatang. Perilaku mereka menunjukkan bahwa hal memaksimalkan keuntungan sudah cukup bagi mereka. Tetapi pasar tidak dengan sendirinya menjamin pengembangan manusia secara integral atau pelibatan sosial. Pada saat yang sama,   kita   menyaksikan   “semacam   ‘superdevelopment’ berbentuk hidup boros dan konsumtif, yang harus ditolak karena kontras dengan situasi penderitaan tak manusiawi yang berlangsung terus”;   sementara kita amat terlambat dalam mengembangkan lembaga-lembaga ekonomi dan prakarsa sosial yang dapat memberi orang miskin akses teratur ke sumber-sumber daya yang mendasar. Kita gagal untuk melihat akar terdalam dari ketimpangan saat  ini yang terkait dengan arah, tujuan, makna, dan konteks sosial perkembangan teknologi dan ekonomi.

110. Spesialisasi dalam teknologi sendiri membuatnya sangat sulit untuk melihat keseluruhan. Fragmentasi pe- ngetahuan bermanfaat dalam mengadakan aplikasi kon- kret, tetapi sering menyebabkan  hilangnya  kepekaan untuk keseluruhan, untuk hubungan antara pelbagai hal, dan untuk cakrawala lebih luas yang menjadi tidak Hal ini mempersulit penemuan cara yang memadai untuk memecahkan masalah-masalah yang paling kompleks di dunia sekarang, terutama yang berkaitan dengan ling- kungan  dan  kaum  miskin;  masalah-masalah  ini    tidak dapat ditangani dari satu perspektif atau dengan satu jenis kepentingan saja. Sebuah ilmu yang mengklaim dapat menawarkan solusi untuk masalah-masalah yang besar harus selalu memperhitungkan data yang dihasilkan oleh bidang-bidang pengetahuan lain, termasuk filsafat dan  etika sosial. Tetapi kebiasaan itu sulit didapatkan dewasa ini. Karena itu juga, tidak dapat ditemukan  cakrawala etika yang benar dan  yang  dapat  menjadi  rujukan.  Hidup ini lama-kelamaan diserahkan kepada  keadaan  yang dibentuk oleh teknologi, yang dipandang sebagai kunci utama untuk memaknai eksistensi. Dalam realitas konkret yang menantang kita, tampaklah berbagai gejala yang menunjukkan kekeliruan ini, seperti kerusakan lingkungan, kecemasan, kehilangan tujuan hidup dan  hidup bersama. Hal ini menunjukkan, sekali lagi, bahwa “kenyataan lebih penting daripada gagasan”.

111. Budaya ekologis tidak dapat direduksi menjadi serangkaian jawaban mendesak dan parsial atas masalah- masalah yang sedang muncul dalam kaitan dengan kerusakan lingkungan, menipisnya cadangan sumber daya alam, dan polusi. Dibutuhkan cara pandang yang berbeda, cara berpikir, kebijakan, program pendidikan, gaya hidup dan spiritualitas, yang membangun daya tahan terhadap serangan paradigma Jika tidak, inisiatif-inisiatif ekologis yang terbaik pun akhirnya dapat terjebak dalam pola pikir global yang sama. Hanya mencari solusi teknis untuk masing-masing  masalah  lingkungan  yang muncul, adalah mengisolasi hal-hal yang dalam kenyataan saling berhubungan, dan itu berarti menutupi masalah-masalah yang benar dan paling mendalam dari sistem global.

112. Namun, kita dapat kembali memperluas visi kita. Manusia memiliki kebebasan yang mampu membatasi teknologi dan mengarahkannya; menggunakannya untuk cara kemajuan lain, yang lebih sehat, lebih manusiawi, lebih sosial, lebih utuh. Pembebasan dari paradigma tek- nokratis yang dominan, ada kalanya betul terjadi, misal- nya, ketika koperasi produsen kecil memilih proses pro- duksi yang ramah lingkungan, sambil memilih gaya  hidup, kebahagiaan, dan hidup bersama yang non-kon- sumtif; atau ketika teknologi terutama diarahkan pada penyelesaian masalah konkret orang lain, dalam semangat membantu mereka untuk hidup lebih bermartabat dan kurang menderita; juga ketika kekuatan yang memandang segalanya sebagai objek, dapat diatasi oleh dorongan  untuk menciptakan dan menatap hal-hal yang indah, sehingga terwujudlah keselamatan dalam hal indah dan manusia yang merenungkannya  Kemanusiaan  otentik yang mengundang kita pada suatu sintesis baru, tampak tetap bersemayam di tengah peradaban teknologi, meski hampir tak kentara, seperti kabut yang masuk dari bawah pintu yang tertutup. Apakah janji ini akan berkelanjutan, dan tetap memancar sebagai tanda perlawanan tegas dari sisi semuanya yang otentik?

113. Di sisi lain, orang tampaknya tidak lagi percaya pada masa depan yang bahagia; mereka tidak lagi menaruh kepercayaan yang buta kepada masa depan yang lebih baik berdasarkan keadaan dunia sekarang dan kemampuan teknis saat ini. Mereka menjadi sadar bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat disamakan dengan kemajuan umat manusia dan sejarah, dan mereka melihat bahwa jalan-jalan utama menuju masa depan yang bahagia adalahberbeda.Namun,merekatidakmembayangkanuntuk melepaskan kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkan oleh teknologi. Umat manusia telah berubah secara radikal, dan akumulasi hal-hal baru terus-menerus mendangkalkan dan menyeret kita pada satu arah, pada pemukaan saja. Sulit untuk berhenti sejenak menemukan kembali kedalaman hidup. Bila benar bahwa arsitektur mencerminkan sema- ngat zaman, gedung-gedung raksasa dan apartemen- apartemen yang mirip-mirip mengekspresikan semangat teknologi yang mengglobal; membanjirnya produk-produk baru menyatu dengan kebosanan konstan. Mari kita menolak untuk menyerah kepada keadaan itu, dan berani bertanya tentang tujuan dan makna segala sesuatu. Kalau tidak, kita hanya akan melegitimasi situasi sekarang dan terus membutuhkan lebih banyak barang pengganti untuk mengisi kekosongan.

114. Apa yang sekarang sedang terjadi, mendesakkitauntuk bergerak maju dalam sebuah revolusi budaya yang berani. Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak netral, tetapi dapat melibatkan, dari awal sampai akhir prosesnya, berbagai niat dan kemungkinan, dan dapat mengambil bentuk yang berbeda-beda. Tidak ada yang menyarankan untuk kembali ke zaman batu, namun sangat penting untuk memperlambat langkah dan melihat realitas dengan cara lain, menyambut baik kemajuan yang positif dan berkelanjutan, dan pada saat yang sama memulihkan kembali nilai-nilai dan tujuan- tujuan agung yang hancur karena manusia menganggap dirinya besar tanpa adanya kendali.




Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *