Bab 3.3.2. – Kebutuhan untuk melestarikan pekerjaan

Lanjutan Bab 3.

III. KRISIS DAN EFEK ANTROPOSENTRISME   MODERN …

 Kebutuhan untuk melestarikan pekerjaan.

124. Dalam setiap pendekatan ekologi integral, yang tidak mengecualikan manusia, harus diperhitungkan nilai pekerjaan, yang diuraikan dengan penuh hikmat oleh Santo Yohanes Paulus II dalam Ensiklik Laborem Exercens. Ingat, menurut kisah penciptaan dalam Alkitab, Al-lah menempatkan manusia dalam suatu kebun yang baru saja diciptakan (lihat Kejadian 2:15) tidak hanya untuk melestarikan apa yang ada (memelihara) tetapi juga untuk mengerjakannya agar menghasilkan buah (mengusahakan). Dengan demikian, para pekerja dan pengrajin “menopang tata dunia” (Sirakh 38:34). Pada kenyataannya, campur tangan manusia untuk mengembangkan dunia ciptaan dengan cermat, adalah bentuk pemeliharaan yang paling tepat karena berarti bahwa kita memandang diri sebagai sarana Al-lah untuk membantu mewujudkan potensi yang telah Al-lah sendiri letakkan dalam segalanya: “Tuhan membuat obat-obatan tumbuh dari bumi, dan orang yang arif tidak mengabaikannya” (Sirakh 38:4).

125. Jika kita mencoba merenungkan hubungan yang tepat antara manusia dan dunia di sekitar kita, muncullah kebutuhan akan pemahaman yang tepat terhadap pekerjaan; sebab jika kita berbicara tentang hubungan antara manusia dan hal-hal lain, muncullah pertanyaan tentang arti dan tujuan semua aktivitas manusia. Hal ini bukan hanya menyangkut kerja tangan atau pertanian tetapi setiap aktivitas yang membawa serta perubahan dari apa yang ada, mulai dari pengembangan penelitian sosial sampai dengan proyek pengembangan teknologi. Setiap bentuk pekerjaan mengandaikan suatu pemahaman akan relasi yang dapat, atau harus dibangun manusia dengan sesamanya. Bersamaan dengan kekaguman kontemplatif terhadap dunia ciptaan seperti yang kita temukan pada Santo Fransiskus dari Assisi, Spiritualitas Kristen juga telah mengembangkan pemahaman yang kaya dan sehat terhadap pekerjaan, seperti yang dapat kita lihat, misalnya, dalam kehidupan Beato Charles de Foucauld dan murid- muridnya.

126. Kita juga dapat memetik sesuatu dari tradisi lama monastisisme. Awalnya, ini lebih disukai sebagai cara me- larikan diri dari dunia, mencoba melepaskan diri dari ke- merosotan kehidupan kota. Karena itu para rahib men- cari padang gurun, yang diyakini sebagai tempat yang tepat untuk mengenali kehadiran Allah. Kemudian, Santo Benediktus dari Nursia mengusulkan agar para rahib hidup dalam komunitas, dan menggabungkan doa serta bacaan dengan kerja tangan (Ora et labora). Memperkenalkan kerja tangan yang sarat akan makna rohani, adalah revolusioner. Kita belajar mematangkan dan menguduskan diri melalui interaksi antara permenungan dan pekerjaan. Dengan cara menghayati pekerjaan seperti itu kita menjadi lebih peka dan lebih ramah terhadap lingkungan, serta relasi kita dengan dunia menjadi lebih bersahaja dan sehat.

127. Kita mengatakan bahwa “manusia menjadi pencipta, pusat dan tujuan dari seluruh kehidupan sosial ekonomi”. Namun demikian, ketika kemampuan manusia untuk bermenung dan bersujud merosot, terciptalah situasi dimana arti pekerjaan salah dimengerti.101 Kita harus selalu ingat bahwa manusia memiliki “kemampuan memperbaiki nasibnya, menunjang pertumbuhanmoralnya danmengem- bangkan bakat-kemampuan rohaninya”. Pekerjaan harus menjadi tempat pengembangan pribadinya dalam beberapa dimensi kehidupan yang penting: kreativitas, perencanaan masa depan, pengembangan bakat, penghayatan nilai-nilai, komunikasi dengan orang lain, dan sikap memuja Allah. Oleh karena itu, dalam realitas masyarakat global saat ini, perlulah “kita terus memberi prioritas terhadap akses ke pekerjaan tetap bagi setiap orang,  melebihi kepentingan sempit bisnis dan rasionalitas ekonomi yang meragukan.

128. Sejak diciptakan kita dipanggil untuk Kemajuan teknologi jangan dipandang untuk menggantikan tenaga kerja manusia, karena dengan demikian manusia akan merugikan dirinya. Kerja adalah suatu keharusan, bagian dari makna hidup di bumi, jalan menuju pema- tangan, pengembangan manusia, dan perwujudan diri. Dalam arti ini, membantu orang miskin dengan uang harus selalu menjadi solusi sementara untuk menangani keadaan darurat. Tujuan utama seharusnya selalu memungkinkan mereka untuk hidup bermartabat melalui pekerjaan. Tetapi arah ekonomi mendorong teknologi canggih untuk menekan biaya produksi dengan mengurangi tenaga kerja dan kemudian menggantinya dengan mesin. Ini satu contoh lagi bagaimana tindakan manusia dapat berbalik melawan dirinya sendiri. Hilangnya pekerjaan “juga membawa dampak negatif terhadap perekonomian, mengikis ‘modal sosial’,  yaitu  jejaring  relasi  kepercayaan,  saling  ketergan- tungan, dan patuh pada peraturan, yang semuanya sangat diperlukan untuk setiap bentuk kehidupan masyarakat sipil”.  Singkatnya, “Biaya manusia (human cost) selalu termasuk biaya ekonomi (economic cost), dan perekonomian yang buruk selalu membawa biaya manusia”. Berhenti berinvestasi dalam manusia, untuk mendapatkan keuntungan finansial jangka pendek yang lebih besar, merupakan usaha yang sangat buruk bagi masyarakat.

129. Agar dapat terus menyediakan lapangan kerja, sangat perlu mempromosikan ekonomi yang mendorong kera- gaman produksi dan kreativitas kewirausahaan. Contoh- nya, ada aneka ragam sistem pangan pedesaan berskala kecil yang terus memberi makan kepada sebagian besar penduduk dunia, dengan menggunakan sebagian kecil tanah dan air, dan menghasilkan sedikit limbah, entah itu di sepetak kecil lahan pertanian, atau dengan berkebun, berburu, atau memanen di alam liar, atau sebagai nelayan lokal. Ekonomi skala besar, terutama di sektor pertanian, akhirnya memaksa petani kecil untuk menjual tanah mereka atau meninggalkan budidaya tradisional mereka. Upaya mereka untuk mengembangkan pelbagai bentuk produksi lain, akhirnya menjadi sia-sia karena kesulitan memasuki pasar regional dan global, atau karena infrastruktur pen- jualan dan transportasi yang hanya melayani bisnis besar. Pihak berwenang memiliki hak dan tanggung jawab untuk mengambil langkah-langkah yang dengan jelas dan tegas mendukung produsen kecil dan keanekaragaman produksi. Untuk menjamin kebebasan ekonomi di mana setiap orang benar-benar dapat memperoleh keuntungan, kadang- kadang perlu menetapkan batas bagi mereka yang memi- liki lebih banyak sumber daya dan kekuatan finansial. Wa- cana tentang kebebasan ekonomi, sementara kondisi yang sebenarnya menghalangi banyak orang untuk mendapat akses nyata kepadanya, dan juga akses ke lapangan kerja memburuk, menjadi wacana kontradiktif yang memalukan bagi politik. Kegiatan kewirausahaan, yang merupakan panggilan mulia untuk menghasilkan kekayaan dan mem- perbaiki dunia bagi semua, dapat menjadi cara yang sangat subur untuk memajukan daerah di mana proyek-proyeknya dikembangkan; terutama jika dipahami bahwa penciptaan lapangan kerja merupakan bagian penting dari pelayanan untuk kesejahteraan umum.




Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *