Bab 3.3.3 – Teknologi biologis yang baru

 

Lanjutan Bab 3.

III. KRISIS DAN EFEK ANTROPOSENTRISME   MODERN.

Teknologi biologis yang baru

130. Dalam visi filosofis dan teologis tentang penciptaan yang telah saya sajikan, jelas bahwa manusia, dengan kekhususan akal budi dan ilmunya, tidak merupakan faktor eksternal yang harus sepenuhnya dikesampingkan. Namun, juga bila manusia dapat campur tangan dalam dunia tanaman dan satwa dan memanfaatkannya bila perlu untuk hidupnya, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa eksperimen pada binatang hanya sah jika “dalam batas-batas yang wajar … dapat menyumbang untuk  menyembuhkan dan menyelamatkan manusia”. Katekismus mengingatkan dengan tegas bahwa kuasa manusia punya batas dan bahwa “bertentangan dengan martabat manusia bila menyiksa binatang dan membunuhnya dengan cara yang tidak wajar”. Setiap penggunaan atau eksperimen “menuntut penghormatan kepada keutuhan ciptaan”.

131. Di sini saya ingin mengangkat posisi seimbang Santo Yohanes Paulus II, ketika menyoroti manfaat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang “menunjukkan kemuliaan panggilan manusia untuk berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam tindakan kreatif Al-lah di dalam dunia”. Pada saat yang sama ia mengingatkan bahwa “intervensi mana pun dalam salah satu bidang ekosistem tidak dapat mengabaikan untuk mempertimbangkan akibat-akibatnya dalam bidang-bidang lain”. Ini menggarisbawahi bahwa Gereja menghargai kontribusi “studi dan aplikasi biologi molekuler, dilengkapi dengan disiplin ilmu lain seperti genetika dan aplikasi teknologisnya di bidang pertanian dan industri”, meskipun ia juga menyatakan bahwa semuanya itu tidak harus mengarah pada “manipulasi genetik yang dilakukan tanpa pertimbangan matang” dan tak tahu menahu efek negatif intervensi tersebut. Tidak mungkin untuk mengekang kreativitas manusia. Jika kita tidak dapat melarang seorang seniman untuk menampilkan kemampuannya yang kreatif, kita juga tidak dapat menghalangi mereka yang memiliki karunia khusus untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; kemampuan itu diberikan oleh Al-lah untuk melayani orang lain. Pada saat yang sama, kita tak henti-hentinya perlu memikirkan kembali tujuan, efek, konteks dan batas- batas etis aktivitas manusia ini, yang merupakan bentuk kekuasaan yang melibatkan risiko tinggi.

132. Dalam konteks ini perlu ditempatkan seluruh refleksi tentang campur tangan manusia pada tanaman dan hewan, yang sekarang melibatkan mutasi genetik yang dihasilkan oleh bioteknologi, dengan maksud untuk me- manfaatkan peluang-peluang yang tersedia dalam realitas materiil. Hormat iman terhadap akal budi meminta untuk memperhatikan apa yang dapat diajarkan oleh ilmu biologi sendiri, yang dikembangkan secara independen dari kepentingan ekonomi, tentang struktur-struktur biologis serta peluang-peluang dan mutasi mereka. Bagaimana pun, intervensi sah adalah intervensi yang bertindak pada alam “untuk membantunya berkembang menurut garisnya sendiri sebagai ciptaan, sebagaimana dikehendaki oleh Al-lah”.

133. Sulit untuk membuat penilaian umum tentang modifikasi genetik (GM), entah menyangkut tanaman atau hewan, dengan tujuan medis atau agraris, karena modifikasi-modifikasi itu bisa sangat berbeda satu sama lain dan memerlukan pertimbangan yang berbeda. Di sisi lain, risiko tidak selalu berasal dari teknik itu sendiri, tetapi dari aplikasinya yang tidak sesuai atau berlebihan. Pada kenyataannya, mutasi genetik sudah, dan sangat sering, dilakukan oleh alam sendiri. Juga mutasi genetik yang disebabkan oleh campur tangan manusia, bukanlah fenomena modern. Domestikasi hewan, persilangan spesies dan praktik kuno lainnya yang diterima secara universal, dapat masuk dalam pertimbangan di sini. Perlu diingat bahwa perkembangan ilmiah dari sereal transgenik dimulai dari pengamatan bakteri yang secara alami dan spontan menghasilkan modifikasi genom tanaman. Tetapi di alam, proses itu berjalan lambat, tidak sebanding dengan langkah cepat berkat kemajuan teknologi saat ini, bahkan ketika kemajuan ini adalah buah perkembangan ilmiah dari beberapa abad.

134. Meskipun tidak ada bukti tak terbantahkan tentang kerugian yang dapat disebabkan oleh sereal transgenik bagi manusia, yang di beberapa daerah penggunaannya telah membawa pertumbuhan ekonomi yang membantu memecahkan pelbagai masalah, masih ada sejumlah kesulitan signifikan yang tidak boleh dianggap remeh. Di banyak daerah, setelah memperkenalkan tanaman ini, terlihat konsentrasi lahan produktif di tangan beberapa orang, akibat “hilangnya secara bertahap produsen- produsen kecil, yang karena hilangnya lahan yang dapat  digunakan, terpaksa menarik diri dari produksi lang- sung”. Orang paling rentan menjadi buruh tidak tetap, dan banyak buruh tani akhirnya pindah ke wilayah perko- taan yang miskin. Perluasan lahan tanaman baru itu meng- hancurkan jaringan ekosistem yang kompleks, mengurangi keanekaragaman produksi dan membahayakan masa kini dan masa depan ekonomi regional. Di beberapa negara, kita melihat perkembangan oligopoli dalam produksi gandum dan produk lainnya yang dibutuhkan dalam budaya mereka. Ketergantungan ini menjadi lebih parah lagi dengan produksi benih steril yang akhirnya akan memaksa para petani untuk membeli benih dari perusahaan produsen besar.

135. Masalah ini memerlukan perhatian terus-menerus dan kepedulian bagi semua aspek etis yang terkait. Untuk itu perlu dijamin suatu diskusi ilmiah dan sosial yang bertang- gung jawab dan luas, mampu memperhitungkan semua in- formasi yang tersedia danmembicarakannya secara terbuka. Kadang-kadang kita tidak menerima seluruh informasi, yang diseleksi sesuai dengan kepentingan tertentu, entah itu politis, ekonomis, atau ideologis. Hal itu mempersulit pen- capaian keputusan yang seimbang dan bijaksana tentang berbagai masalah, dengan memperhitungkan semua variabel yang relevan. Diperlukan ruang diskusi di mana semua yang dengan salah satu cara, langsung atau tidak langsung, terkena dampak (petani, konsumen, pemerintah, ilmuwan, produsen benih, masyarakat lokal, dan lain-lain)  dapat mengungkapkan masalah mereka atau mengakses informasi yang lengkap dan terpercaya, untuk membuat keputusan demi kesejahteraan umum sekarang dan di masa depan. Ini adalah masalah lingkungan yang kompleks; penanganannya membutuhkan pendekatan komprehensif, dan untuk itu dibutuhkan, setidaknya, suatu upaya yang lebih besar untuk membiayai berbagai bidang penelitian, yang otonom dan interdisipliner, yang mampu membawa terang baru.

136. Di sisi lain, sungguh mencemaskan ketika beberapa gerakan ekologi yang mempertahankan keutuhan ling- kungan dan menuntut batas-batas tertentu pada penelitian ilmiah, kadang-kadang tidak menerapkan prinsip-prinsip yang sama untuk hidup manusia. Ada kecenderungan untuk membenarkan melanggar segala batas saat me- lakukan eksperimen pada embrio manusia yang hidup. Kita lupa bahwa nilai mutlak manusia melampaui tahap perkembangannya. Selain itu, ketika teknik mengabaikan prinsip-prinsip etika, akhirnya ia menganggap sah praktik apapun. Sebagaimana telah kita lihat dalam bab ini, teknologi yang dipisahkan dari etika tidak akan mudah untuk dapat membatasi kekuasaannya sendiri.

 




Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *