Bab 4.2 – Ekologi Budaya

Untuk Android :


Untuk PC :

Lanjutan Bab 4.

II. Ekologi Budaya.

143. Bersama dengan warisan alam, juga warisan sejarah, seni dan budaya terancam. Warisan ini adalah bagian dari identitas bersama di suatu tempat dan dasar untuk membangun sebuah kota yang layak huni. Yang penting bukanlah membongkar atau pun membangun kota-kota baru yang disebut lebih ekologis, namun tidak selalu lebih menarik untuk dihuni. Kita harus memperhitungkan sejarah, budayadanarsitekturlokal, untuk mempertahankan identitas aslinya. Maka ekologi juga berarti melestarikan kekayaan budaya umat manusia dalam arti yang luas. Secara khusus, kita dituntut untuk memberi perhatian kepada budaya lokal, ketika mempelajari isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan, sambil mendukung dialog antara bahasa ilmiah-teknis dan bahasa rakyat. Inilah budaya, bukanhanya dalamarti monumenmasa lalu, tetapi terutama dalam artinya yang hidup, dinamis, dan partisipatif, yang tidak dapat dikesampingkan ketika kita memikirkan kembali hubungan manusia dengan lingkungan.

144. Visi konsumeristik manusia, didorong oleh mekanis- me ekonomi global saat ini, cenderung untuk menyeragam- kan budaya dan mengurangi keanekaragamannya, yang merupakan harta umat manusia. Oleh karena itu, meng- klaim bahwa semua kesulitan dapat diselesaikan melalui peraturan yang seragam atau intervensi teknis, cenderung mengabaikan kompleksitas masalah-masalah lokal yang memerlukan keterlibatan aktif masyarakat setempat. Proses-proses baru yang sedang berkembang tidak selalu dapat dimasukkan ke dalam skema-skema yang ditetapkan dari luar, tetapi harus berangkat dari budaya lokal sendiri. Karena kehidupan dan dunia adalah dinamis, maka peles- tarian dunia harus fleksibel dan dinamis. Solusi-solusi yang teknis belaka berisiko menangani simtom-simtom dan tidak menjawab masalah-masalah yang terdalam. Ini mencakup perspektif hak bangsa-bangsa dan budaya, dan juga pemahaman bahwa pengembangan kelompok sosial mengandaikansuatu proses sejarah yang berlangsung dalam suatu konteks budaya, dan membutuhkan keterlibatan terus-menerus, terutama dari para pelaku masyarakat lokal, dengan bertolak dari budaya mereka sendiri. Juga gagasan kualitas hidup tidak dapat dipaksakan tetapi harus dipahami dari dalam dunia simbol dan adat yang menjadi milik masing-masing kelompok manusia.

145. Banyak bentuk eksploitasi dan degradasi lingkungan yang sangat intensif tidak hanya menguras sumber daya setempat, tetapi juga melemahkan kemampuan sosial yang telah mendukung suatu cara hidup yang sejak lama memberi identitas budaya serta makna hidup dan bermukim bersama. Hilangnya satu budaya dapat sama serius atau lebih serius daripada hilangnya spesies tanaman atau binatang. Pemaksaan gaya hidup yang dominan terkait dengan cara produksi tertentu dapat membawa kerugian sama besar seperti perubahan ekosistem.

146. Dalam arti ini, amat penting memberikan perhatian khusus kepada masyarakat adat dan tradisi budaya mereka. Mereka bukan hanya suatu minoritas di tengah yang lain, tetapi mereka harus menjadi mitra dialog utama, terutama ketika dikembangkan proyek-proyek besar yang mem- pengaruhi wilayah mereka. Memang, bagi kelompok- kelompok ini tanah bukan harta ekonomis, tetapi pemberian dari Al-lah dan dari para leluhur yang dimakamkan di situ, ruang sakral yang mereka butuhkan untuk berinteraksi demi mempertahankan identitas dan nilai-nilai mereka. Ketika mereka tinggal di wilayah mereka, justru merekalah yang melestarikannya dengan paling baik. Namun, di berbagai belahan dunia, mereka berada di bawah tekanan untuk meninggalkan tanah mereka dan melepaskannya untuk proyek-proyek pertambangan serta proyek-proyek pertanian dan perikanan yang tidak memperhatikan kerusakan alam dan budaya.




Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *