Bab 5.4 – POLITIK DAN EKONOMI DALAM DIALOG UNTUK PEMENUHAN MANUSIA

Untuk Android :

Untuk PC :

Lanjutan Bab 5.

IV. POLITIK DAN EKONOMI DALAM DIALOG  UNTUK  PEMENUHAN MANUSIA.

189. Politik tidak  harus  tunduk  pada  ekonomi  dan ekonomi tidak harus tunduk pada perintah atau paradigma efisiensi teknokrasi. Saat ini, sambil memikirkan kesejah- teraan umum, ada kebutuhan mendesak bahwa politik dan ekonomi, dalam dialog, secara tegas mengabdikan diri kepada kehidupan, terutama kehidupan manusia. Menyelamatkan bank-bank dengan biaya apa pun, dengan membuat masyarakat membayar harganya, tanpa kepu- tusan kuat untuk meninjau dan mereformasi sistem secara keseluruhan, menegaskan kembali kekuasaan mutlak keuangan yang tidak memiliki masa depan dan yang hanya dapat menghasilkan krisis baru setelah pemulihan yang lama, mahal, dan semu. Krisis keuangan 2007-2008 telah menjadi kesempatan bagi pengembangan ekonomi baru yang lebih memperhatikan prinsip-prinsip etika, dan bagi cara-cara baru untuk mengatur praktik keuangan yang spekulatif dan kekayaan fiktif. Tetapi krisis itu tidak ditanggapi dengan memikirkan kembali kriteria usang yang terus memerintah dunia. Produksi tidak selalu rasional, dan sering dikaitkan dengan variabel-variabel ekonomis yang menetapkan nilai produk yang tidak sesuai dengan nilainya yang riil. Hal ini sering menyebabkan kelebihan produksi komoditas tertentu, yang membawa dampak yang tidak perlu pada lingkungan dan sekaligus kerugian bagi banyak ekonomi regional. Gelembung keuangan umumnya juga menjadi gelembung produksi. Yang akhirnya tidak ditangani secara tegas adalah ekonomi riil, yang misalnya memungkinkan produksi diversifikasi dan ditingkatkan, membantu perusahaan-perusahaan untuk berfungsi dengan baik, dan memungkinkan usaha-usaha kecil dan menengah berkembang dan menciptakan lapangan kerja.

190. Dalam konteks ini, kita harus selalu ingat bahwa “perlindungan lingkungan tidak dapat dijamin semata-mata atas dasar perhitungan finansial tentang biaya dan laba. Lingkunganadalahsalahsatubarang yang tidak dapatsecara memadai dilindungi atau ditingkatkan oleh mekanisme pasar”. Sekali lagi, kita harus menghindari konsepsi magis tentang pasar yang mengesankan bahwa masalah-masalah akan diselesaikan hanya dengan meningkatkan keuntungan perusahaan dan individu. Apakah realistis untuk berharap bahwa orang yang terobsesi dengan keuntungan maksimal berhenti untuk memikirkan dampak ekologis yang akan    ia tinggalkan untuk generasi mendatang? Dalam  pola  pikir profit tidak ada ruang untuk berpikir tentang irama alam, fase layu dan regenerasi, atau tentang kompleksitas ekosistem yang dapat serius diubah oleh campur tangan manusia. Juga, keanekaragaman hayati dipahami paling- paling sebagai simpanan sumber daya ekonomi untuk dieksploitasi, tanpa pemikiran serius tentang nilainya yang riil, maknanya bagi manusia dan budaya, atau kepentingan serta kebutuhan masyarakat miskin.

191. Ketika pertanyaan-pertanyaan ini diajukan, ada yang bereaksi dengan menuduh bahwa yang lain mencoba secara irasional menghentikan kemajuan dan pembangunan manusia. Tetapi kita harus menjadi yakin bahwa penurunan laju produksi dan konsumsi dapat membangkitkan bentuk-bentuk kemajuan dan pengembangan lain. Upaya untuk penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan bukanlah sebuah pengeluaran yang tidak berguna, tetapi suatu investasi yang dapat menghasilkan manfaat ekonomis jangka menengah. Jika kita tidak berpikir sempit, kita dapat menemukan bahwa diversifikasi produksi yang lebih inovatif, dan kurang berdampak terhadap lingkungan, bisa sangat menguntungkan. Inilah soal keterbukaan terhadap aneka kemungkinan yang berbeda, yang tidak berarti mematikan kreativitas manusia dan cita-cita kemajuannya, tetapi mengarahkan energi itu ke jalur-jalur baru.

192. Misalnya suatu  jalan pembangunan produktif  yang lebih kreatif dan diarahkan lebih baik, dapat memperbaiki ketimpangan antara investasi yang berlebihan dalam teknologi konsumsi dan investasi yang kurang untuk memecahkan masalah-masalah mendesak yang dihadapi umat manusia. Perbaikan itu bisa menghasilkan cara-cara yang cerdas dan menguntungkan dalam hal penggunaan kembali, pembenahan, dan daur ulang bisa juga meningkatkan efisiensi energi kota. Diversifikasi produksi membuka amat banyak kesempatan bagikecerdasan manusia untuk berkreasi dan berinovasi, sambil serentak melindungi lingkungan serta menambah lapangan kerja. Kreativitas tersebut akan mampu memekarkan kembali keluhuran manusia, karena lebih layak menggunakan kecerdasan, dengan keberanian dan tanggung jawab, untuk menemukan bentuk-bentuk pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan, sebagai bagian dari konsep yang lebih luas tentang kualitas hidup. Sebaliknya, kurang layak, agak dangkal, dan kurang kreatif bila kita terus menciptakan bentuk-bentuk lain untuk menjarah alam hanya untuk menambah kesempatan baru konsumsi dan keuntungan cepat.

193. Bagaimana pun juga, Jika dalam beberapa kasus pembangunan yang berkelanjutan akan menghasilkan bentuk-bentuk pertumbuhan baru, dalam kasus lain, mengingat pertumbuhan rakus dan tidak bertanggung jawab yang telah terjadi selama beberapa dekade, kita juga perlu memikirkan untuk menahan pertumbuhan dengan menetapkan beberapa batas yang wajar dan bahkan menapaki langkah kita sebelum terlambat. Kita tahu bahwa tidak dapat dipertahankan perilaku mereka yang terus mengkonsumsi dan menghancurkan lebih banyak lagi, sementara yang lain belum bisa hidup sesuai dengan martabatmerekasebagaimanusia. Itulahsebabnyawaktunya telah datang  untuk  menerima  penurunan  pertumbuhan  di beberapa bagian dunia, untuk menyediakan sumber  daya bagi pertumbuhan yang sehat di bagian-bagian lain.  Benediktus  XVI  menegaskan  bahwa  “masyarakat berteknologi maju harus bersedia memilih gaya hidup yang lebih ugahari, sekaligus mengurangi penggunaan energi dan meningkatkan efisiensinya”.

194. Supaya muncul model-model kemajuan yang baru, kita  perlu   “mengubah   model   pembangunan   global”, yang  akan  memerlukan  refleksi  bertanggung  jawab  “atas makna ekonomi dan tujuannya, untuk memperbaiki kesalahan  dalam  fungsi  dan  aplikasinya”. Tidak  cukup untuk mendamaikan, sebagai jalan tengah, perlindungan alam dengan keuntungan finansial, atau pelestarian lingkungan dengan kemajuan. Dalam hal ini jalan tengah hanya sedikit menunda keruntuhan. Yang diperlukan adalah mendefinisikan ulang pengertian kita tentang kemajuan. Perkembangan teknologi dan ekonomi yang tidak meninggalkan dunia yang lebih baik dan kualitas hidup yang lebih baik secara keseluruhan, tidak dapat dianggap sebagai kemajuan. Di sisi lain, kualitas hidup manusia sebenarnya sering berkurangkarena kerusakan lingkungan, rendahnya kualitas produk makanan sendiri atau menipisnya sumber daya tertentu di tengah-tengah pertumbuhan    Dalam  konteks  ini,  wacana pertumbuhan yang berkelanjutan sering menjadi sarana untuk mengalihkan perhatian dan mencari pembenaran. Nilai- nilai wacana ekologi dikemas dalam logika keuangan dan teknokrasi. Tanggung jawab sosial dan ekologis biasanya menyusut menjadi serangkaian langkah-langkah pemasaran dan penjagaan citra.

195. Prinsip maksimalisasi keuntungan, yang cenderung dipisahkan dari pertimbangan lain, mencerminkan salah paham akan konsep ekonomi Selama output meningkat, orang tidak peduli bahwa hal itu dilakukan dengan mengorbankan sumber daya masa depan atau kesehatan lingkungan; selama eksploitasi hutan meningkatkan produksi, tidak seorang pun mengukur dalam perhitungan itu, kerugian yang menyiratkan tanah yang menjadi belantara, kerusakan terhadap keanekaragaman hayati, atau peningkatan polusi. Artinya, perusahaan mendapatkan keuntungan dengan menghitung dan membayar hanya sebagian kecil dari biaya. Kita hanya dapat berbicara tentang perilaku etis bila “biaya ekonomi dan sosial yang timbul dari penggunaan sumber daya alam milik bersama, ditetapkan secara transparan dan sepenuhnya ditanggung oleh mereka yang menikmatinya dan bukan oleh bangsa lain atau generasi mendatang”. Cara pikir utilitarian yang hanya membuat pengkajian statis atas realitas berdasarkan kebutuhan saat ini, baik dipakai ketika sumber-sumber daya dibagi-bagikan oleh pasar, maupun ketika hal itu dilakukan oleh perencanaan sentral negara.

196. Bagaimana dengan  politik?  Mari  kita  ingat  prinsip subsidiaritas, yang memberikan kebebasan untuk mengem- bangkan kemampuan yang terdapat pada setiap tingkatan masyarakat, tetapi yang pada saat yang sama menuntut tanggung jawab yang lebih besar untuk kesejahteraan umum dari pihak mereka yang memegang kekuasaan yang lebih besar. Benar bahwa saat ini beberapa sektor ekonomi menjalankan kekuasaan lebih besar daripada negara-negara sendiri. Tetapi kita tidak bisa membenarkan ekonomi tanpa politik, karena akan membuat mustahil mengajukan pola berpikir lain untuk menanggulangi berbagai aspek dari krisis saat ini. Pola berpikir yang tidak memberi ruang kepada perhatian yang tulus untuk lingkungan adalah pola sama yang juga tidak memberi ruang untuk menyertakan mereka  yang  paling  rentan,  karena  “model  saat  ini  yang menekankan keberhasilan dan hak pribadi, tidak tampak mendukung investasi dalam upaya-upaya membantu me- reka yang tertinggal, yang lemah, atau yang kurang berbakat untuk menemukan peluang-peluang dalam hidup”.

197. Kita membutuhkan sebuah politik yang berpandang- an luas dan yang dapat mengajukan pendekatan kompre- hensif, mampu mengintegrasikan berbagai aspek dari krisis ke dalam suatu dialog Seringkali politik sendiri bertanggung jawab atas hilangnya reputasinya, karena korupsi dan kurangnya kebijakan publik yang baik. Jika negara tidak memainkan perannya dalam salah satu wilayah, kelompok-kelompok   ekonomis   tertentu dapat tampil sebagai dermawan dan merebut kekuasaan yang nyata, merasa diri berwenang untuk mengabaikan aturan- aturan tertentu, sampai menimbulkan berbagai bentuk kejahatan terorganisir, perdagangan manusia, perdagangan narkoba, dan kekerasan, yang sangat sulit diberantas. Jika politik tidak mampu mendobrak cara berpikir yang sesat itu, dan tetap terjebak dalam wacana yang tidak konsisten, kita terus tidak akan menanggapi masalah-masalah utama umat manusia. Sebuah strategi perubahan yang nyata memerlukan pemikiran ulang seluruh proses, karena tidak cukup untuk memasukkan beberapa pertimbangan ekologis yang dangkal, sementara kita tidak mempertanyakan cara berpikir yang mendasari budaya saat ini. Sebuah politik yang sehat harus mampu menerima tantangan ini.

198. Politik dan ekonomi cenderung saling mempersa- lahkan atas kemiskinan dan kerusakan Tetapi mudah-mudahan mereka masing-masing akan mengakui kesalahannya sendiri dan menemukan bentuk-bentuk interaksi yang ditujukan kepada kesejahteraan umum. Sementara yang satu terobsesi dengan keuntungan ekonomi belaka dan yang lain hanya terobsesi untuk mempertahankan atau meningkatkan kekuasaannya, kita tertinggal dengan konflik-konflik, atau dengan kesepakatan-kesepakatan yang gagal melestarikan lingkungan dan melindungi yang terle- mah, hal mana memang bukan minat kedua belah pihak itu. Di sini pun berlaku prinsip bahwa “persatuan lebih unggul daripada pertentangan”.




Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *