Bab 6.2 – PENDIDIKAN UNTUK PERJANJIAN ANTARA MANUSIA DAN LINGKUNGAN

Untuk Android :

Untuk PC :

Untuk PC : Lanjutan Bab 6.

II. PENDIDIKAN UNTUK PERJANJIAN ANTARA  MANUSIA  DAN LINGKUNGAN

209. Kesadaran terhadap krisis budaya dan ekologis yang serius harus diterjemahkan ke dalam adat kebiasaan baru. Banyak orang tahu bahwa kemajuan kita saat ini yang hanya berupa penumpukan benda atau kenikmatan, tidak cukup untuk memberikan makna dan sukacita kepada hati manusia, tetapi mereka tidak merasa mampu menolak apa yang ditawarkan kepada mereka oleh pasar. Di negara- negara yang harus membuat perubahan paling besar dalam pola konsumsi, orang-orang muda memiliki kepekaan ekologis baru dan semangat yang murah hati, dan beberapa dari mereka membuat upaya yang mengagumkan untuk membela lingkungan; tetapi mereka dibesarkan dalam lingkungankonsumtif danamatsejahtera, yang menyulitkan mereka untuk mengembangkan kebiasaan lain. Maka kita dihadapkan pada sebuah tantangan pendidikan.

210. Pendidikan lingkungan setahap demi setahap telah memperluas targetnya. Jika pada awalnya sangat terfokus pada informasi ilmiah, peningkatan kesadaran, dan pencegahan risiko untuk lingkungan, sekarang pendi- dikan itu cenderung  mencakup  kritik  terhadap  “mitos” modernitas (individualisme, kemajuan tanpa batas, persaingan, konsumerisme, pasar tanpa aturan) yang didasarkan pada cara pikir utilitarian. Pendidikan itu   cenderung memperhatikan berbagai tingkat keseimbangan ekologis: di tingkat internal dengan dirinya sendiri, di tingkat sosial dengan orang lainnya, di tingkat alami dengan semua makhluk hidup, dan di tingkat spiritual dengan Al-lah. Pendidikan lingkungan harus mempersiapkan kita  melakukan  lompatan  ke  “Misteri”  yang  memberi etika lingkungan maknanya yang terdalam. Selain itu, para pendidik harus mampu mengembangkan jalur-jalur pedagogis bagi etika ekologis, sehingga membantu orang secara efektif bertumbuh dalam solidaritas, dalam tanggung jawab, dan dalam perawatan penuh kasih.

211. Namun, pendidikan yang bertujuan untuk mencip- takan suatu “kewarganegaraan  ekologis”,  kadang-kadang sebatas memberi informasi, dan gagal untuk mengem- bangkan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Adanya undang- undang dan aturan tidaklah cukup dalam jangka panjang untuk mengurangi perilaku buruk, bahkan ketika kontrol yang efektif pun ada. Agar peraturan hukum menghasil- kan efek jangka panjang yang signifikan, maka sebagian besar anggota masyarakat perlu menerimanya dengan motivasi yang tepat, dan menanggapinya berdasarkan  suatu perubahan pribadi. Hanya dengan mengembangkan kebajikan kukuh, pemberian diri dalam suatu komitmen ekologis menjadi mungkin. Orang yang mempunyai kebiasaan mengenakan pakaian yang lebih hangat daripada segera menyalakan alat pemanas rumah, meskipun situasi keuangannya memungkinkan dia untuk  mengkonsumsi  dan membelanjakan lebih banyak, menunjukkan keutuhan keyakinan dan kepekaan pada pelestarian lingkungan. Sangatlah mulia bila kewajiban untuk memelihara  ciptaan dilakukan melalui tindakan kecil sehari-hari, dan sangat indah bila pendidikan lingkungan mampu mendorong orang untuk menjadikannya suatu gaya hidup. Pendidikan dalam tanggung jawab ekologis dapat mendorong berbagai perilaku yang memiliki dampak langsung dan signifikan untuk pelestarian lingkungan, seperti: menghindari penggunaan plastik dan kertas, mengurangi penggunaan air, pemilahan sampah, memasak secukupnya saja untuk kita makan, memperlakukan makhluk hidup lain dengan baik, menggunakan transportasi umum atau satu kendaraan bersama dengan beberapa orang lain, menanam pohon, mematikan lampu yang tidak perlu. Semuanya itu adalah bagiandari suatukreativitas yang layak danmurahhati, yang mengungkapkan hal terbaik dari manusia. Menggunakan kembali sesuatu daripada segera membuangnya, karena terdorong oleh motivasi mendalam, dapat menjadi tindakan kasih yang mengungkapkan martabat kita.

212. Janganlah kita berpikir bahwa upaya ini tidak akan mengubah dunia. Tindakan-tindakan ini menyebarkan di masyarakat suatu kebaikan yang selalu menghasilkan buah di luar apa yang bisa kita lihat, karena menimbulkan suatu kebaikan di bumi yang cenderung  menyebar  terus, meskipun kadang-kadang tak terlihat. Selain itu, bertumbuhnya perilaku ini mengembalikan rasa harga diri kita, membawa kita kepada suatu kehidupan yang lebih penuh dan mendalam, yang memungkinkan kita merasakan bahwa kehidupan di bumi ini

213. Pendidikan ekologis dapat terjadi dalam berbagai konteks: sekolah, keluarga, media komunikasi, katekese, dan lain-lain. Pendidikan yang baik di sekolah sejak  usia dini menaburkan benih yang dapat menghasilkan buah sepanjang hidup. Namun di sini saya ingin menekankan pentingnya  dan  peran  sentral  keluarga,  karena  “di  situ- lah kehidupan sebagai kurnia Al-lah, dapat disambut sebagaimana layaknya, dan dilindungi terhadap sekian banyak serangan yang menghadangnya, pun mampu ber- tumbuh, memenuhi persyaratan perkembangan manusiawi yang sejati. Menghadapi apa yang disebut budaya maut, keluarga merupakan sanggar budaya kehidupan”.  Dalam keluarga, dikembangkan kebiasaan awal untuk mencintai dan melestarikan hidup, seperti penggunaan barang secara tepat, ketertiban dan kebersihan, menghormati ekosistem lokal, dan merawat semua makhluk ciptaan. Keluarga adalah tempat pembinaan integral, di mana pematangan pribadi dikembangkan dalam pelbagai aspeknya yang saling berhubungan. Dalam keluarga, kita belajar untuk meminta izin tanpa menuntut, untuk mengatakan “terima kasih”   sebagai   ungkapan   penghargaan   atas   apa   yang telah diterima, mengendalikan agresi atau  keserakahan,  dan meminta maaf ketika telah menyebabkan kerugian. Tindakan sopan santun yang sederhana dan tulus ini membantu membangun budaya kehidupan bersama dan rasa hormat demi lingkungan kita.

214. Dunia politik dan berbagai kelompok masyarakat lainnya harus berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Demikian juga Gereja. Semua komunitas Kristen harus memainkan peran penting dalam pendidikan ini. Saya juga berharap bahwa di seminari dan di rumah pendidikan hidup bakti, diberi pendidikan untuk mengadakan penghematan yang bertanggung jawab, untuk kontemplasi dunia dengan penuh rasa syukur, dan untuk melindungi kerapuhan orang miskin serta lingkungan. Mengingat pentingnya apa yang dipertaruhkan, kita membutuhkan lembaga-lembaga yang berwenang untuk menghukum orang yang merusakkan lingkungan, tetapi perlu juga kita saling memantau dan saling mendidik.

215. Dalam konteks ini, “hubungan antara pendidikan estetika yang tepat dan pelestarian lingkungan tidak bo- leh diabaikan”.150Memperhatikan keindahan, dan mencin- tainya, membantu kita keluar dari sikap mencari kegunaan praktis saja. Ketika seseorang tidak belajar mengambil waktu untuk mengamati dan menghargai apa yang indah, jangan heran kalau segala benda baginya menjadi objek untuk digunakan dan disalahgunakan tanpa merasa ber- salah. Jika kita ingin mencapai perubahan mendalam, kita harus menyadari bahwa pola pikir tertentu benar-benar mempengaruhi perilaku kita. Pendidikan tidak akan efektif, dan segala upaya akan sia-sia, jika kita tidak berusaha untuk menyebarkan suatu cara berpikir baru tentang manusia, kehidupan, masyarakat, dan hubungan kita dengan alam. Jika tidak, paradigma konsumerisme akan maju terus, dengan dukungan media komunikasi sosial dan cara kerja pasar yang sangat efektif.

 




Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *