Bab 6.4 – KEGEMBIRAAN DAN DAMAI

Untuk Android :


Untuk PC :

Lanjutan Bab 6.

IV. KEGEMBIRAAN DAN DAMAI

222. Sepiritualitas  Kristen  menawarkan  suatu  cara  lain untuk memahami kualitas hidup, dan mendorong sebuah gaya hidup kenabian dan kontemplatif, mampu untuk merasai kenikmatan mendalam tanpa terobsesi dengan konsumsi. Kita harus mengangkat kembali suatu pelajaran kuno, yang ditemukan dalam berbagai tradisi agama, dan juga di dalam Alkitab. Yaitu keyakinan bahwa “kurang adalah  lebih”.  Penambahan  terus  peluang-peluang  untuk mengonsumsi membuyarkan hati dan menghalangi kita untuk menghargai segala sesuatu dan tiap saat. Namun, bila kita dengan tenang hadir pada setiap kenyataan, betapa kecil pun, dibukalah bagi kita ruang yang lebih luas untuk memahami dan berkembang secara pribadi. Spiritualitas Kristen menawarkan pertumbuhan melalui  kesahajaan,  dan kemampuan untuk bergembira dengan sedikit. Jalan kembali ke kesederhanaan memungkinkan kita untuk berhenti dan menghargai hal-hal kecil, berterima  kasih atas kesempatan yang ditawarkan oleh kehidupan, tanpa menjadi terikat pada apa yang kita miliki, atau sedih    atas apa yang tidak kita miliki. Ini berarti menghindari gairah penguasaan dan penumpukan kesenangan saja.

223. Kesahajaan yang dihayati dengan bebas dan sadar, adalah membebaskan. Ini bukanlah hidup yang kurang, atau hidup dengan intensitas yang rendah, tetapi justru sebaliknya. Pada kenyataannya, mereka yang lebih menikmati setiap momentum dan menghayatinya lebih baik, adalah mereka yang berhenti untuk mematuk di sana- sini, selalu mencari apa yang tidak mereka Mereka mengalami apa artinya menghargai setiap orang, setiap perkara; belajar menjalin hubungan, dan tahu menikmati hal-hal sederhana. Kebutuhan mereka yang tak terpenuhi menjadi lebih sedikit, sehingga mereka kurang lelah dan kurang susah. Kita bisa hidup intensif dengan sedikit, terutama ketika mampu menikmati kesenangan lain dan menemukan kepuasan dalam perjumpaan persaudaraan, dalam pelayanan, dalam pengembangan bakat, dalam musik dan seni, dalam kontak dengan alam, dalam doa. Kebahagiaan meminta kecakapan untuk membatasi kebutuhan tertentu yang membius kita, dan dengan demikian menjadi terbuka untuk banyak kemungkinan lain yang ditawarkan kehidupan.

224. Kesahajaan dan kerendahan hati tidak dihargai positif dalam abad Namun, ketika suatu kebajikan kurang dipraktikkan dalam kehidupan pribadi dan sosial, akhirnya muncul beberapa ketimpangan, termasuk ketimpangan ekologis. Oleh karena itu, tidak cukup kita berbicara hanya tentang keutuhan ekosistem. Kita harus berani berbicara tentang keutuhan kehidupan manusia, tentang perlunya mendorong dan menggabungkan semua nilai yang besar. Setelah kehilangan kerendahan hati, dan menjadi terlalu terpesona dengan kemungkinan menguasai segala sesuatu tanpa batas, kita akhirnya membawa keru- sakan bagi masyarakat dan lingkungan. Tidaklah mudah untuk mengembangkan kerendahan hati yang sehat dan kesahajaan yang bahagia ini jika kita menganggap diri otonom; jika kita mengecualikan Al-lah dari hidup kita dan ego kita mengambil tempat-Nya; jika kita berpikir bahwa subjektivitas kita sendiri dapat menentukan apa yang baik dan apa yang jahat.

225. Selain itu, tidak seorang pun dapat mengembangkan hidup yang bersahaja dan bahagia, tanpa berdamai dengan dirinya sendiri. Pemahaman spiritualitas yang memadai mampu menjelaskan apa yang kita maksudkan dengan damai, yang jauh melebihi tidak adanya perang. Kedamaian batiniah manusia sangat berkaitan dengan pelestarian lingkungan dan kesejahteraan umum, karena, bila dihayati secara otentik, damai itu mengejawantah dalam gaya hidup seimbang, yang disertai kemampuan untuk terpesona, yang menjadikan hidup kita semakin mendalam. Alam dipenuhi kata-kata cinta, tetapi bagaimana kita dapat mendengarkannya di tengah-tengah kebisingan yang kontinyu, kecemasan yang terus mengganggu, atau kultus penampilan? Banyak orang mengalami ketidakseim- bangan mendalam yang mendorong mereka melakukan segalanya dengan kecepatan tinggi yang memberi mereka perasaan sibuk, selalu terburu-buru yang, pada gilirannya, menyebabkan mereka melangkahi semua yang ada di sekitarnya. Hal ini berdampak pada cara mereka memperlakukan lingkungan. Ekologi integral juga berarti meluangkan waktu untuk menemukan kembali suatu keselarasan yang jernih dengan dunia ciptaan, untuk mere- nungkan gaya hidup kita dan cita-cita kita, untuk menatap Pencipta yang hidup di tengah kita dan dalam lingkungan kita,   yang   Kehadiran-Nya   “tidak   boleh   dibuat-buat, melainkan ditemukan, disingkapkan”.

226. Kita berbicara tentang suatu sikap hati yang mendekati seluruh hidup dengan perhatian yang jernih, yang mampu sepenuhnya hadir bagi seseorang tanpa berpikir tentang apa yang menyusul, yang memberikan diri kepada setiap momen yang dihayati sepenuhnya sebagai hadiah Al-lah. Yesus mengajarkan kita sikap itu ketika ia mengundang kita untuk melihat bunga bakung di ladang dan burung-burung di langit, atau ketika berhadapan dengan seorang laki- laki yang  cemas  “Ia  memandangnya  dan  menaruh  kasih kepadanya”  (Markus  10:21).  Dia  sepenuhnya  hadir  bagi setiap manusia dan setiap makhluk, dan dengan demikian Ia telah menunjukkan kepada kita suatu cara untuk mengatasi kecemasan tak sehat yang menjadikan kita dangkal, agresif, dan konsumen tanpa

227. Salah satu ungkapan sikap ini adalah ketika kita sejenak berhenti untuk bersyukur kepada Al-lah sebelum dan sesudah makan. Saya menganjurkan kepada orang beriman untuk kembali ke kebiasaan yang indah ini dan menghayati   Momen  doa  pemberkatan itu,  meskipun  sangat  singkat,  mengingatkan  kita    akan ketergantungan hidup kita pada Al-lah, memperkuat rasa syukur atas segala karunia ciptaan, mengakui upaya mereka yang telah menyediakan bahan tersebut, dan memperkuat solidaritas dengan mereka yang paling berkekurangan.




Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *