Bab 6.5 – CINTA DALAM BIDANG SIPIL DAN POLITIK

Lanjutan Bab 6.

5. CINTA DALAM BIDANG SIPIL DAN POLITIK.

228. Pelestarian alam adalah bagian dari suatu gaya hidup yang melibatkan kemampuan untuk hidup bersama dan dalam persekutuan. Yesus mengingatkan kita bahwa kita memiliki Al-lah sebagai Bapa kita bersama, yang menjadikan kita saudara-saudari. Kasih persaudaraan hanya mungkin bila tanpa pamrih, dan bukanlah balas jasa atas apa yang telah dilakukan orang lain atau diharapkan akan dilakukan olehnya. Itulah sebabnya kita bisa mengasihi musuh- musuh kita. Sikap tanpa pamrih yang sama itu mendorong kita untuk mencintai dan menerima angin, matahari atau awan, meskipun mereka tidak tunduk kepada kendali kita. Itu sebabnya kita dapat berbicara tentang persaudaraan universal.

229. Kita harus menyadari kembali bahwa kita saling membutuhkan, bahwa kita memiliki tanggung jawab terhadap orang lain dan dunia, bahwa upaya untuk menjadi baik dan jujur itu sungguh-sungguh bernilai. Sudah terlalu lama kita mengalami kemerosotan moral, kita mencemooh etika, kebaikan, iman, kejujuran. Waktunya telah datang untuk menyadari bahwa kesenangan dangkal kurang membawa manfaat bagi kita. Kehancuran seluruh landasan kehidupan sosial  ini  akhirnya  membuat kita bentrok satu sama lain, sementara masing-masing berusaha untuk menyelamatkan kepentingannya sendiri. Semuanya itu memunculkan bentuk-bentuk baru kekerasan dan kekejaman, dan menghalangi pengembangan budaya perlindungan lingkungan yang sejati.

230. Contoh Santa Teresia dari Lisieux mengajak kita untuk menapak “jalan kecil cinta”, tidak kehilangan kesempatan untuk sebuah kata yang ramah, untuk tersenyum, untuk suatu isyarat kecil apa pun yang memancarkan damai dan persahabatan. Ekologi integral juga terdiri dari tindakan sehari-hari yang sederhana, yang mematahkan logika kekerasan, eksploitasi, keegoisan. Sementara itu, dunia konsumsi yang keterlaluan, pada saat yang sama juga merupakan dunia yang memberi perlakuan buruk kepada kehidupan dalam segala

231. Cinta yang terdiri dari gerakan-gerakan kecil yang mengisyaratkan kepedulian satu sama lain, juga bersifat sipil danpolitik, danmenyatakandiri dalamsegalatindakanyang mencoba membangun suatu dunia yang lebih baik. Cinta akan masyarakat dan komitmen terhadap kesejahteraan umum merupakan ungkapan luar biasa dari belas kasih yang tidak hanya menyangkut hubungan antara individu tetapi juga “hubungan makro: segala hubungan sosial, ekonomis, politis”. Inilah sebabnya mengapa Gereja telah menawarkan  kepada  dunia  cita-cita  “peradaban  cinta”. Cinta  sosial  adalah  kunci  untuk  pengembangan otentik: “Untuk  menjadikan  masyarakat  lebih  manusiawi,  lebih layak bagi pribadi manusia, cinta dalam kehidupan sosial— pada tingkat politik, ekonomi, budaya—harus kembali dihargai dengan menjadikannya norma tetap dan tertinggi dari setiap aktivitas”.158   Dalam konteks ini, bersama-sama dengan pentingnya pelbagai isyarat kecil sehari-hari, cinta sosial mendorong kita untuk merancang strategi besar yang secara efektif dapat menghentikan perusakan lingkungan dan mendorong budaya perlindungan yang meresapi seluruh masyarakat. Ketika kita mengenali panggilan Al-lah untuk bertindak bersama-sama dengan orang lain dalam dinamika sosial ini, hendaknya kita ingat bahwa itu pun merupakan bagian dari spiritualitas kita, merupakan pelaksanaan belas kasih, dan bahwa dengan cara ini kita dimatangkan dan dikuduskan.

232. Tidak semua orang dipanggil untuk aktif dalam politik secara langsung; tetapi di tengah masyarakat tum- buh aneka asosiasi yang bekerja untuk memajukan kese- jahteraan umum dengan menjaga lingkungan alam dan perkotaan. Misalnya, mereka menunjukkan kepedulian terhadap suatu tempat umum (sebuah bangunan, air mancur, monumen yang telantar, lanskap, lapangan) untuk melindungi, membersihkan, memperbaiki atau memper- indah sesuatu yang menjadi milik semua Di sekitar mereka berkembang atau dipulihkan pelbagai ikatan, dan suatu jaringan sosial lokal yang baru muncul. Dengan demikian, masyarakat keluar dari ketidakpedulian akibat konsumerisme. Ini berarti menumbuhkan suatu identitas bersama, suatu sejarah yang dipelihara dan diteruskan. Dengan cara ini, dunia dan kualitas hidup mereka yang paling miskin dipelihara, berkat suatu rasa solidaritas yang pada saat yang sama menjadi kesadaran bahwa kita hidup di sebuah rumah bersama yang dipinjamkan Al-lah kepada kita. Tindakan komunal ini, ketika mengungkapkan kasih yang membaktikan diri, dapat menjadi pengalaman spiritual yang intens.




Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *