Bab 6.6 – TANDA –TANDA SAKRAMENTAL DAN ISTIRAHAT YANG DIRAYAKAN


Lanjutan Bab 6.

6.  TANDA –TANDA SAKRAMENTAL DAN ISTIRAHAT YANG DIRAYAKAN.

233. Alam  semesta berkembang dalam Al-lah yang memenuhinya sepenuhnya. Oleh karena itu ada makna mistis dalam sehelai daun, dalam sebuah lintasan alam, dalam embun, dalam wajah orang miskin. Idealnya bukanlah hanya bergerak dari luar ke dalam untuk menemukan tindakan Al-lah dalam jiwa, tetapi juga bisa menemukan- Nya dalam segala sesuatu,  seperti yang diajarkan Santo Bonaventura: “kontemplasi menjadi lebih sempurna, semakin kita merasakan efek rahmat ilahi dalam diri kita sendiri, dan semakin kita belajar menemukan Al-lah dalam segala makhluk di luar kita”.

Catatan Kaki :
Seorang guru  spiritual,  Ali  al-Khawwâç,  dari  pengalamannya sendiri, menekankan pula perlunya untuk tidak terlalu memisahkan makhluk- makhluk dunia dari pengalaman batin akan Al-lah. Dia mengatakan: “Prasangka   tidak   seharusnya membuat   kita   mengkritik   mereka   yang mencari ekstase dalam musik dan puisi. Ada “rahasia” yang halus dalam setiap gerakan dan suara dari dunia ini. Orang yang sudah diinisiasi mulai menangkap apa yang dikatakan angin yang bertiup, pohon yang bergoyang, air yang mengalir, lalat yang berdengung, pintu yang berderit, burung yang bernyanyi, petikan senar alat musik, siulan seruling, desah orang sakit, erangan orang yang disiksa .. “ Eva De Vitray-Meyerovitch ed., Anthologie du soufisme, Paris 1978, hlm. 200.

234. Santo Yohanes dari Salib mengajarkan bahwa yang baik yang terdapat di dalam segala kenyataan dan pengalaman dunia ini “ditemukan dalam Al-lah secara istimewa dan tak terhingga, atau lebih tepatnya, setiap kebaikanbesartersebut adalah Al-lah”.   Bukan  karena  hal-hal  terbatas  dunia  ini sungguh ilahi, tetapi karena sang mistikus mengalami hubungan intim antara Al-lah dan semua makhluk hidup, dan dengan demikian “ia merasa bahwa Al-lah adalah segala hal itu”.  Jika ia mengagumi kemegahan sebuah gunung, ia tidak dapat memisahkannya dari Al-lah, dan ia menangkap bahwa kekaguman yang ia alami dalam batinnya, harus dikaitkan  dengan  Al-lah:  “Gunung-gemunung  itu  tinggi, subur, luas, indah, anggun, berbunga dan harum. Gunung- gemunung ini—itulah Kekasihku bagiku. Lembah-lembah terpencil itu tenang,  menyenangkan,  sejuk  dan    Di sana air jernih mengalir berkelimpahan. Dengan keragaman vegetasinya dan lagu merdu burung-burung yang menghuninya, lembah-lembah mempesonakan dan menyegarkan indra. Dan dalam kesepian dan keheningan, mereka memberikan kita kesegaran dan istirahat. Lembah- lembah ini—itulah Kekasihku bagiku”.

235. Sakramen-sakramen adalah cara istimewa bagaima- na alam diangkat oleh Al-lah dan dijadikan perantaraan kehidupan adikodrati. Melalui ibadat, kita diajak  untuk merangkul dunia pada tingkat yang berbeda. Air, minyak, api, dan warna-warni diangkat dengan segala daya simbolisnya dan menyatu dengan pujian kita. Tangan yang memberkati menjadi sarana kasih Al-lah dan cerminan kedekatan Yesus Kristus yang telah datang menemani kita di jalan kehidupan. Air yang dituangkan atas tubuh seorang anak yang dibaptis menjadi tanda kehidupan baru. Kita tidak melarikan diri dari dunia dan tidak menyangkal alam, ketika kita ingin bertemu dengan Al-lah. Hal ini dapat dilihat terutama dalam spiritualitas Kristen Timur: “Keindahan, yang merupakan salah satu nama teristimewa di wilayah Timur untuk mengungkapkan harmoni ilahi dan model kemanusiaan yang telah berubah rupa, menyatakan diri di mana-mana: dalam bentuk gereja, dalam bunyi suara, dalam warna-warna, dalam cahaya, dalam aroma”.164 Menurut pandangan Kristen, semua makhluk alam semesta materiil menemukan makna sejatinya dalam Firman yang menjelma, karena Anak Al-lah telah menyatukan dalam diri-Nya sebagian dari dunia materi dan Ia memasukkan ke dalam dunia materi benih transformasi akhir: “Kekristenan tidak menolak materi, kejasmanian, yang justru dihargai penuh dalam tindakan liturgis, di mana tubuh manusia menunjukkan sifatnya yang terdalam sebagai bait Roh Kudus dan menyatukan diri dengan Tuhan Yesus, yang telah mengenakan tubuh demi keselamatan dunia”.

236. Dalam Ekaristi, dunia ciptaan menemukan keagung- annya yang terbesar. Anugerah yang biasanya menyatakan diri secara konkret, terekspresi luar biasa saat Al-lah yang telah menjadi manusia itu, menjadikan diri-Nya santapan bagi makhluk ciptaan-Nya. Tuhan, pada puncak misteri Inkarnasi, ingin menggapai lubuk hati kita melalui sepotong materi; bukan dari atas tetapi dari dalam, sehingga kita dapat menjumpai-Nya dalam dunia kita sendiri. Dalam Ekaristi kepenuhan sudah diwujudkan; Ia adalah pusat kehidupan alam semesta, pusat yang berkelimpahan kasih dan kehidupan yang tak habis-habisnya. Menyatu dengan Anak yang menjelma dan yang hadir dalam Ekaristi, seluruh kosmos mengucap syukur kepada Al-lah. Memang, Ekaristi itu sendiri merupakan tindakan kasih kosmik, “Ya, kosmik! Karena ketika dirayakan di altar sederhana sebuah gereja kampung, Ekaristi selalu dirayakan, dalam arti tertentu, di  altar  dunia”.166    Ekaristi  menyatukan  langit  dan  bumi, merangkul dan meresapi seluruh ciptaan. Dunia yang berasal dari tangan Al-lah, berbalik kembali kepada-Nya dalam penyembahan yang penuh sukacita dan sempurna: dalam Roti Ekaristi “ciptaan diarahkan kepada pengilahian, kepada pesta pernikahan yang kudus, kepada penyatuan dengan Sang Pencipta sendiri”.  Oleh karena itu, Ekaristi adalah sumber terang dan motivasi bagi kepedulian kita terhadap lingkungan, dan mengajak kita untuk menjadi penjaga seluruh ciptaan.

237. Pada hari Minggu, partisipasi dalam Ekaristi memiliki arti penting yang Hari itu, seperti hari Sabat Yahudi, ditawarkan sebagai hari pemulihan hubungan  manusia dengan Al-lah, dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan dengan dunia. Hari Minggu adalah hari kebangkitan, “hari pertama” ciptaan baru; buahnya yang pertama adalah kebangkitan kemanusiaan Tuhan, yang menjadi jaminan transfigurasi akhir seluruh realitas ciptaan. Hari minggu menyatakan  juga  “istirahat  kekal  manusia  pada  Al-lah” Dengan demikian spiritualitas Kristen menggabungkan nilai istirahat dan perayaan. Manusia cenderung meren- dahkan istirahat kontemplatif sebagai hal yang tidak produktif atau tidak perlu, sambil melupakan bahwa dengan demikian ia merampas pekerjaan yang ia lakukan, dari yang paling penting: maknanya. Kita dipanggil untuk memasukkan ke dalam pekerjaan kita dimensi penerimaan dan pemberian tanpa pamrih, yang berbeda dengan sekadar tidak bekerja. Ini tentang bekerja dengan cara lain yang termasuk hakikat kita. Dengan demikian, aktivitas manusia terlindung bukan hanya terhadap aktivisme kosong, tetapi juga terhadap kerakusan tak terkendali dan pikiran tertutup yang menyebabkan orang hanya mengejar kepentingannya sendiri. Aturan tentang istirahat mingguan memberi perintah agar berhenti bekerja pada hari ketujuh “supaya lembu dan keledaimu tidak bekerja dan supaya anak budakmu  perempuan  dan  orang  asing  melepaskan  lelah” (Keluaran 23:12). Istirahat membuka mata kita untuk dunia yang lebih luas dan memungkinkan kita untuk mengakui hak-hak dari yang lain. Dengan demikian, hari istirahat, yang terpusat pada Ekaristi, memancarkan cahayanya bagi seluruh minggu dan mendorong kita untuk lebih memperhatikan perlindungan alam dan kaum miskin.




Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *