Bagian 3 – Seksi 2 – Bab 1 – KASIHILAH TUHAN ALLAHMU DENGAN SEGENAP HATIMU, DENGAN SEGENAP JIWAMU, DAN DENGAN SEGENAP AKAL BUDIMU

*Bagian 3 – Seksi 2 – Sepuluh Perintah Al-lah.

Keluaran 20:2-17

  1. Sebab enam hari lamanya, TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN mem berkati hari Sabat dan menguduskannya.
  2. Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN Al-lahmu kepadamu.
  3. Jangan membunuh.
  4. Jangan berzina.
  5. Jangan mencuri.
  6. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
  7. Jangan mengingini rumah sesamamu: jangan mengingini istrinya, atau hamba-nya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu.
  8. Sebab enam hari lamanya, TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.
  9. Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN Al-lahmu kepadamu.
  10. Jangan membunuh. Jangan berzina.
  11. Jangan mencuri.
  12. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
  13. Jangan mengingini rumah sesamamu: jangan mengingini istrinya, atau hamba- nya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu.

Ulangan 5:5-21

  1. Akulah Tuhan Al-lahmu. Yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, keluar dari rumah perbudakan.
  2. Jangan memiliki al-lah-al-lah lain di hadapan-Ku …
  3. Jangan menyebut nama TUHAN Al-lahmu dengan sembarangan …
  4. Perlakukanlah hari Sabat sebagai hari yang kudus.
  5. Hormatilah ayah dan ibumu …
  6. Jangan membunuh.
  7. Jangan pula kamu berzina.
  8. Jangan pula kamu mencuri.
  9. Jangan pula kamu mengucapkan saksi dusta ten- tang sesamamu.
  10. Jangan pula kamu mengingini istri sesamamu ….
  11. Jangan menginginkan barang apa pun kepunyaan sesamamu.

Rumusan Katekese Tradisional :

  1. Akulah Tuhan Al-lahmu, kamu tidak boleh mem- punyai al-lah-al-lah asing di hadapan-Ku.
  2. Jangan menyebut nama TUHAN Al-lahmu dengan sembarangan.
  3. Kuduskanlah hari Tuhan.
  4. Hormatilah ayah dan ibu-mu.
  5. Jangan membunuh.
  6. Jangan berzina.
  7. Jangan mencuri.
  8. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
  9. Jangan mengingini istri sesamamu.
  10. Jangan menginginkan barang sesamamu.

434. ”Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memper- oleh hidup yang kekal?” (Matius 19:16)
Kepada seorang pemuda yang mengajukan pertanyaan ini, Yesus menjawab, ”Jika engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Al-lah”, dan kemudian Dia menambahkan, ”Datanglah kemari dan ikutilah Aku” (Matius 19:16- 21). Mengikuti Yesus mengandung arti termasuk menaati perintah-perintah Al-lah. Hukum tidak dihapuskan, tetapi manusia diundang untuk menemukannya kembali dalam Pribadi Guru ilahi, yang melaksanakannya secara sempurna dalam Diri-Nya, menyingkapkan arti yang sebenarnya, dan memaklumkan keabsahannya yang tetap.

435. Bagaimana Yesus menafsirkan hukum?
Yesus menafsirkan Hukum dalam terang perintah rangkap tetapi satu, yaitu perintah cinta kasih, kepenuhan Hukum: ”Kasihilah Tuhan Al-lahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada dua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan Kitab para Nabi” (Matius 22:37- 40).

436. Apa arti ”Dekalog”?
Dekalogartinya”sepuluhfirman” (Keluaran 34:28). Firmaninimeringkas Hukum Taurat yang diberikan oleh Al-lah kepada umat Israel dalam konteks Perjanjian, dan Musa sebagai perantara mereka. Dekalog ini, yang menyajikan perintah- perintah cinta kepada Al-lah (tiga yang pertama) dan kepada sesama (tujuh yang lainnya), diperuntukkan bagi umat terpilih dan setiap orang, khususnya yang mau menjalani hidup yang terbebas dari perbudakan dosa.

437. Apa hubungan antara Dekalog dengan Perjanjian?
Dekalog harus dipahami dalam terang Perjanjian tempat Al-lah mewahyukan Diri dan menyatakan kehendak-Nya. Dalam menaati perintah-perintah-Nya, umat menunjukkan bahwa mereka milik Al-lah dan mereka menjawab inisiatif cinta-Nya dengan persembahan syukur.

438. Seberapa pentingnya Dekalog ini bagi Gereja?
Gereja, dalam kesetiaannya kepada Kitab Suci dan teladan Kristus, mengakui kepentingan paling dasar dan makna Dekalog: Orang-orang Kristen wajib me- naatinya.

439. Mengapa Dekalog membentuk satu kesatuan organis?
Sepuluh Perintah Al-lah membentuk satu keseluruhan organis dan tak terpisahkan karena setiap perintah menunjuk pada perintah-perintah lainnya dan pada seluruh Dekalog. Karena itu, melanggar satu perintah berarti melanggar seluruh hukum.

440. Mengapa Dekalog wajib ditaati?
Karena Dekalog mengungkapkan kewajiban mendasar manusia terhadap Al-lah dan sesamanya.

441. Apakah mungkin menaati Dekalog?
Ya, karena Kristus membuat kita mampu menaatinya dengan anugerah Roh dan rahmat-Nya. Tanpa Dia, kita tidak dapat berbuat apa-apa.

BAB SATU – Kasihilah  Tuhan Al-lahmu Dengan Segenap Hatimu, Dengan Segenap Jiwamu, Dan dengan  Segenap Akal Budimu.

Perintah Pertama: Akulah Tuhan Al-lahmu.  Jangan Memiliki Al-lah Al-lah Lain Di HadapanKu.

442. Apayangterkandungdalampernyataan Al-lah: ”Akulah Tuhan Al-lahmu” (Keluaran 20:2)?
Ini berarti bahwa orang beriman harus menjaga dan menjalankan tiga ke- utamaan teologal dan menghindari dosa yang bertentangan dengan itu. Iman percaya kepada Al-lah dan menolak segala sesuatu yang berlawanan dengannya, seperti keragu-raguan yang disengaja, ketidakpercayaan, kesesatan, penyangkalan iman dan skisma. Harapan menanti dengan penuh kepercayaan penampakan Al-lah yang terberkati dan pertolongan-Nya, dan menghindari keputusasaan dan kecurigaan. Kasih mencintai Al-lah di atas segalanya dan karena itu menolak sikap acuh tak acuh, sikap tidak tahu terima kasih, kelesuan, kejenuhan rohani, dan kebencian akan Al-lah yang muncul dari kesombongan.

443. Apa arti sabda Al-lah, ”Sembahlah Tuhan Al-lahmu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti” (Matius 4:10)?
Kata-kata ini berarti menyembah Al-lah sebagai Al-lah segala sesuatu yang ada, merayakan ibadah individual dan komunitas kepada-Nya yang menjadi kewajiban- nya, berdoa kepada-Nya dengan pujian, syukur, dan permohonan, mempersem- bahkan kurban kepada-Nya terutama kurban rohani dari kehidupannya sendiri, yang dipersatukan dengan kurban sempurna Kristus, dan memegang teguh janji dan kaul yang telah diikrarkan di hadapan-Nya.

444. Dengan cara apa seseorang melaksanakan haknya untuk menyembah Al-lah dalam kebenaran dan kebebasan?
Setiap orang mempunyai hak dan kewajiban moral untuk mencari kebenaran, khususnya yang berkenaan dengan Al-lah dan Gereja-Nya. Pada saat kebenaran dikenal, setiap orang mempunyai hak dan kewajiban moral untuk memeluknya, menjaganya dengan setia, dan merayakan pemujaan yang autentik kepada Al-lah. Pada saat yang sama, martabat manusia menuntut bahwa dalam hal-hal religius tak seorang pun boleh dipaksa untuk melakukan sesuatu yang berlawanan dengan suara hatinya, dan tidak pula boleh dihalangi, di dalam batas-batas tatanan umum yang bisa dibenarkan, untuk bertindak sesuai suara hatinya, secara pribadi atau umum, sendiri atau dalam kebersamaan dengan yang lain.

445. Apa yang dilarang Al-lah dalam perintah, ”jangan ada padamu al-lah lain di hadapan-Ku” (Keluaran 20:3)?
Perintah itu melarang:
– Polytheisme dan penyembahan berhala, yang mengilahikan ciptaan, kekuasaan, uang, atau bahkan setan.
– Takhayul yang merupakan penyimpangan dari penyembahan yang layak diberikan hanya kepada Al-lah yang benar dan terungkap dalam bermacam-macam bentuk pengilahian, magi, sihir, dan spiritisme.
– Penodaan agama yang tampak dalam mencobai Al-lah dalam kata atau tindakan, dalam sakrilegi, yang mencemarkan orang-orang kudus atau barang-barang suci, terutama Ekaristi, dan dosa simoni yang menyangkut jual beli barang-barang rohani.
– Ateisme yang menyangkal eksistensi Al-lah, sering berdasar pada konsep yang salah tentang otonomi manusia.
– Agnostisisme yang menekankan bahwa tak ada sesuatu pun yang dapat
dikenal tentang Al-ah, termasuk di sini ketidakpedulian (indiferentis- me) dan ateisme praktis.

446. Apakah perintah Al-lah, ”janganmembuat bagimu patung yang menyeru- pai apa pun” (Keluaran 20:4), melarang penghormatan pada gambar?
Dalam Perjanjian Lama, perintah ini melarang secara mutlak setiap represen- tasi Al-lah yang transenden. Tetapi, penghormatan Kristen akan gambar-gambar suci dibenarkan oleh fakta penjelmaan Putra Al-lah (sebagaimana dijelaskan oleh Konsili Nicea II, tahun 787 M) karena penghormatan itu didasarkan pada misteri Putra Al-lah yang menjadi manusia, yang dalam Dia, Al-lah Transenden menjadi tampak. Itu bukan berarti penyembahan gambar, tetapi terlebih penghormatan seseorang yang direpresentasikan di dalamnya, misalnya, Kristus, Perawan Maria, para ma- laikat, dan para santo-santa.

PERINTAH KEDUA:
Jangan Menyebut Nama Tuhan Al-lahmu Dengan Sembarangan.

447. Bagaimana seseorang dapat menghormati kekudusan Nama Al-lah?
Seseorang menunjukkan hormat kepada Nama Al-lah yang Kudus dengan memberkati, memuji, dan memuliakan Nama-Nya. Karena itu, dilarang menyebut Nama Al-lah untuk membenarkan suatu kejahatan. Juga merupakan tindakan yang salah memakai Nama-Nya yang Kudus dengan cara yang tidak selayaknya, misalnya menghujat (yang menurut kodratnya merupakan dosa berat), kutukan, dan ketidaksetiaan kepada janji yang dibuat dalam Nama Al-lah.

448. Mengapa sumpah palsu itu dilarang?
Hal itu dilarang karena seseorang memanggil Al-lah yang adalah kebenaran itu sendiri untuk menjadi saksi pada kebohongan.

”Jangan bersumpah, apakah atas nama Pencipta atau ciptaan,
kecuali benar-benar mutlak diperlukan
dan hal ini dilaksanakan dengan penuh hormat”.
(Santo Ignatius Loyola).

449. Apa itu sumpah palsu?
Sumpah palsu adalah membuat janji di bawah sumpah dengan intensi tidak akan menepatinya atau mengingkari janji yang dibuat di bawah sumpah. Ini merupakan dosa berat melawan Al-lah yang selalu setia kepada janji-Nya.

PERINTAH KETIGA: KUDUSKANLAH HARI TUHAN.

450. Mengapa Al-lah ”memberkati hari Sabat dan menguduskannya” (Keluaran 20:11)?
Al-lah melakukan itu karena pada hari Sabat orang mengingat Al-lah yang beristirahat pada hari ketujuh penciptaan, dan juga pembebasan Israel dari per- budakan di Mesir dan Perjanjian dengan Umat Al-lah yang dimeteraikan-Nya.

451. Bagaimana Yesus bertindak berhadapan dengan hari Sabat?
Yesus mengakui kekudusan hari Sabat, dan dengan otoritas ilahi, Dia memberikan interpretasi autentik terhadap hukum ini: ”Hari Sabat diadakan untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Markus 2:27).

452. Dengan alasan apa hari Sabat diubah menjadi hari Minggu bagi orang- orang Kristen?
Alasannya, hari Minggu adalah hari kebangkitan Kristus. Sebagai ”hari pertama minggu itu” (Markus 16:2) mengingatkan penciptaan pertama, dan seba- gai ”hari kedelapan”, sesudah hari Sabat, melambangkan ciptaan baru yang di- dahului oleh kebangkitan Kristus. Jadi, bagi orang Kristen, hari itu merupakan yang pertama dari semua hari dan pesta yang lain. Hari itu merupakan hari Tuhan yang dengan Paskah-Nya, Dia menyempurnakan kebenaran rohani hari Sabat Ya- hudi dan mewartakan istirahat abadi manusia dalam Al-lah.

453. Bagaimana orang menjaga kekudusan hari Minggu?
Orang-orang Kristen menjaga kekudusan hari Minggu dan hari-hari wajib lainnya dengan berpartisipasi pada Ekaristi, serta menghindari kegiatan-kegiatan yang menghalangi ibadah kepada Al-lah dan mengganggu sukacita hari Al-lah itu atau relaksasi yang dibutuhkan oleh badan dan jiwa. Kegiatan-kegiatan yang diperboleh- kan pada hari Sabat adalah kegiatan yang berhubungan dengan kebutuhan keluarga atau pelayanan sosial yang penting, asalkan tidak mengarah kepada kebiasaan yang merugikan kekudusan hari Minggu, hidup keluarga, dan kesehatan.

454. Mengapa pengakuan sipil bahwa hari Minggu adalah hari libur itu penting?
Pengakuan itu penting supaya semua diberi kemungkinan nyata untuk ber- istirahat, memberi perhatian pada religiositas mereka, hidup keluarga, hidup sosial dan budaya. Juga penting menyediakan waktu khusus untuk meditasi, refleksi, ke- heningan, studi, dan waktu untuk melakukan perbuatan baik, terutama bagi orang sakit dan usia lanjut.