Bag. 2 – Seksi 2 – Bab. 3 – SAKRAMEN UNTUK PElAYANAN PERSEKUTUAN DAN PERUTUSAN

Bagian 2 – Seksi 2 – TUJUH SAKRAMEN GEREJA

  1. Pembaptisan,
  2. Penguatan,
  3. Ekaristi Kudus,
  4. Tobat,
  5. Pengurapan Orang Sakit,
  6. Penahbisan,
  7. Perkawinan.

Bag. 2 – Seksi 2 – Bab. 3 – SAKRAMEN UNTUK PElAYANAN PERSEKUTUAN DAN PERUTUSAN

321. Sakramen untuk pelayanan persekutuan dan perutusan?
Dua Sakramen, Penahbisan dan Perkawinan, memberikan rahmat khusus untuk perutusan tertentu dalam Gereja untuk melayani dan membangun Umat Al-lah. Sakramen-Sakramen ini memberikan sumbangan dengan cara yang khusus pada persekutuan gerejawi dan penyelamatan orang-orang lain.

SAKRAMEN PENAHBISAN

322. Apa itu Sakramen Penahbisan?
Sakramen yang melaluinya perutusan yang dipercayakan Kristus pada pa- ra Rasul-Nya terus dilaksanakan dalam Gereja sampai akhir zaman.

323. Mengapa Sakramen ini disebut dengan Penahbisan?
Tahbisan (ordo) menunjukkan tingkatan gerejawi yang dimasuki oleh se- seorang melalui upacara pengudusan khusus (ordinasi). Melalui rahmat khusus Roh Kudus, Sakramen ini membuat orang yang ditahbiskan mampu melaksa- nakan kuasa suci atas nama dan dengan wewenang Kristus untuk pelayanan Umat Al-lah.

324. Di mana tempat Sakramen Penahbisan dalam rencana penyelamatan ilahi?
Sakrameninisudahdipralambangkandalam Perjanjian Lama dalam pelayanan para Levi, dalam imamat Harun, dan dalam penetapan tujuh puluh ”Penatua” (Bilangan 11:25). Pralambang awal ini mencapai pemenuhannya dalam diri Yesus Kristus yang melalui kurban salib-Nya merupakan ”satu pengantara antara Al-lah dan manusia” (1Timotius 2:5), ”Imam Besar menurut peraturan Melkisedek” (Ibrani 5:10). Imamat Kristus yang tunggal dihadirkan melalui imamat jabatan.

”Hanya Kristuslah Imam yang sejati,
yang lainnya hanyalah pembantu-pembantu-Nya”
(Santo ftomas Aquinas)

325. Apa tingkatan-tingkatan dalam Sakramen Penahbisan?
Sakramen Penahbisan terdiri dari tiga tingkatan yang tak tergantikan dalam struktur organik Gereja, yaitu: Episkopat, Presbiterat, dan Diakonat.

326. Apa buah Penahbisan Episkopat?
Penahbisan episkopat memberikan kepenuhan Sakramen Penahbisan. Penahbisan ini menyebabkan seorang Uskup menjadi penerus sah para Rasul dan mengintegrasikannya ke dalam kolegium para Uskup untuk bersama-sama dengan Paus melayani seluruh Gereja. Penahbisan ini memberikan wewenang mengajar, menguduskan, dan memerintah.

327. Apa wewenang yang diserahkan kepada seorang Uskup dalam Gereja partikular?
Uskup yang diserahi tanggung jawab untuk mengurus Gereja partikular merupakan kepala yang kelihatan dan dasar kesatuan bagi Gereja partikular tersebut. Demi Gereja dan sebagai wakil Kristus, seorang Uskup menjalankan wewenangnya sebagai gembala dibantu para Imam dan Diakon.

328. Apa buah Penahbisan Presbiterat?
Pengurapan Roh memeteraikan Imam dengan suatu meterai rohani yang tak dapat dihapuskan dan yang menjadikan dia serupa dengan Kristus sang Imam Agung, dan membuatnya mampu bertindak atas nama Kristus sang Kepala. Sebagai rekan kerja Uskup, dia ditahbiskan untuk mewartakan Injil, melaksanakan upacara liturgi, terutama Sakramen Ekaristi, dari sinilah dia mendapatkan kekuatan dalam pelayanannya, dan menjadi gembala umat beriman.

329. Bagaimana Imam melaksanakan pelayanan ini?
Seorang Imam, walaupun ditahbiskan untuk perutusan universal, melaksana- kan pelayanannya dalam Gereja partikular. Pelayanan ini dilakukan dalam persau- daraan sakramental dengan yang lainnya yang bersama-sama membentuk ”Presbiterat”. Dalam kesatuan dengan Uskup dan tergantung darinya, mereka bertanggung jawab atas Gereja partikular.

330. Apa buah Penahbisan Diakonat?
Diakon yang dipersatukan dengan Kristus sang pelayan untuk semua, ditahbiskan untuk pelayanan Gereja. Dia melaksanakan pelayanannya di bawah wewenang Uskupnya dengan pelayanan Sabda, upacara liturgi, reksa pastoral, dan karya karitatif.

331. Bagaimana pelaksanaan upacara Sakramen Penahbisan?
Sakramen Penahbisan dilaksanakan, dalam setiap tingkatannya, dengan cara penumpangan tangan keataskepalayangditahbiskanoleh Uskupyangmengucapkan doa agung Penahbisan. Dengan doa ini, Uskup memohon kepada Al-lah, bagi yang ditahbiskan, pencurahan Roh Kudus dan anugerah Roh sesuai dengan pelayanan yang dimaksud oleh Penahbisan tersebut.

332. Siapa yang dapat melayani Sakramen ini?
Hanya para Uskup yang ditahbiskan dengan sah sebagai pengganti para Rasul yang dapat melaksanakan Sakramen Penahbisan ini.

333. Siapa yang dapat menerima Sakramen ini?
Sakramen ini hanya dapat diterima secara sah oleh orang yang sudah dibaptis. Gereja mengakui dirinya terikat pada pilihan yang sudah dibuat oleh Tuhan. Tak seorang pun dapat menuntut untuk menerima Sakramen Penahbisan ini, tetapi harus melalui penilaian kelayakan untuk pelayanan ini oleh otoritas Gereja.

334. Apakah perlu menjalani hidup selibat untuk menerima Sakramen Penahbisan?
Untuk episkopat, mutlak perlu. Untuk presbiterat dalam Gereja Latin, yang dipilih adalah orang yang Katolik dan mempraktekkan selibat: orang-orang yang bermaksud melanjutkan penghayatan hidup selibat ”karena Kerajaan Surga” (Matius 19:12). Dalam Gereja-Gereja Timur, perkawinan tidak boleh dilaksanakan setelah seseorang ditahbiskan. Orang yang sudah kawin dapat ditahbiskan menjadi Diakon permanen.

335. Apa buah Sakramen Penahbisan?
Sakramen ini memberikan pencurahan khusus Roh Kudus yang menjadikan orang yang menerimanya serupa dengan Kristus dalam tiga jabatan-Nya sebagai Imam, Nabi, dan Raja sesuai dengan tingkatan Sakramen yang diterimanya. Penahbisan memberikan meterai spiritual yang tidak dapat dihapuskan, dan karena itu tidak dapat diulangi atau diberikan untuk sementara waktu.

336. Dengan wewenang apakah pelayanan imamat itu dilaksanakan?
Dalam menjalankan tugas pelayanan sucinya, para Imam yang ditahbiskan berbicara dan bertindak bukan atas wewenang mereka sendiri, bukan pula karena mandat atau delegasi komunitas tertentu, tetapi atas nama Pribadi Kristus Sang Kepala dan atas nama Gereja. Karena itu, imamat jabatan ini berbeda secara esensial dan tidak hanya dalam tingkatan dengan imamat umum seluruh umat beriman. Untuk pelayanan umat beriman, Kristus menetapkan Sakramen ini.

SAKRAMEN PERKAWINAN

337. Apa rencana Al-lah berkenaan dengan laki-laki dan perempuan?
Al-lah yang adalah cinta dan yang telah menciptakan laki-laki dan perempuan untukcintatelahmemanggilmerekauntukmencinta. Denganmenciptakanlaki-laki dan perempuan, Al-lah memanggil mereka kepada persatuan hidup yang intim dan cinta dalam perkawinan. ”Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu” (Matius 19:6). Al-lah bersabda dan memberkati mereka: ”Beranak-cuculah dan bertam- bah banyak” (Kejadian 1:28).

338. Untuk tujuan apa Al-lah menetapkan Perkawinan?
Hubungan perkawinan antara laki-laki dan perempuan, yang didasarkan dan didukung dengan hukum-hukumnya sendiri oleh sang Pencipta, menurut kodratnya bertujuan untuk persatuan dan kebaikan pasangan dan menurunkan serta mendidik anak-anak. Menurut rencana ilahi asali, persatuan perkawinan ini tak dapat diceraikan, seperti Yesus Kristus menegaskan: ”Apa yang telah dipersa- tukan Al-lah, tidak boleh diceraikan manusia” (Markus 10:9).

339. Bagaimana dosa mengancam Perkawinan?
Karena dosa asal, yang menyebabkan perpecahan persekutuan laki-laki dan perempuan yang dianugerahkan Al-lah, kesatuan perkawinan sangatsering terancam oleh ketidakharmonisan dan ketidaksetiaan. Tetapi, Al-lah dalam kerahiman-Nya yang tanpa batas memberikan kepada laki-laki dan perempuan rahmat untuk membawa kesatuan hidup mereka ke dalam harmoni dengan rencana ilahi asali.

340. Apa yang diajarkan Perjanjian lama mengenai Perkawinan?
Al-lah membantu umat-Nya terutama melalui ajaran Hukum dan para Nabi untuk sedikit demi sedikit mendalami pemahaman kesatuan dan ketakterceraian perkawinan. Perjanjian perkawinan antara Al-lah dengan Israel mempersiapkan dan melambangkan awal Perjanjian Baru yang ditetapkan oleh Yesus Kristus, Putra Al-lah, dengan mempelai-Nya, yaitu Gereja.

341. Unsur baru apa yang diberikan Kristus kepada Perkawinan?
Kristus tidak hanya memulihkan tujuan asali perkawinan, tetapi mengangkat- nya ke dalam martabat Sakramen, memberikan kepada kedua mempelai suatu rahmat khusus untuk menghayati perkawinan mereka sebagai simbol cinta Kristus untuk mempelai-Nya, Gereja: ”Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat ” (Efesus 5:25).

342. Apakah semua orang harus kawin?
Perkawinan bukanlah suatu keharusan bagi setiap orang, terutama karena Al-lah memanggil beberapa laki-laki dan perempuan untuk mengikuti Yesus dalam hidup keperawanan atau selibat demi Kerajaan Surga. Pantangan untuk men- dapatkan hal-hal yang baik dari perkawinan ini dalam rangka memusatkan diri pada urusan-urusan Al-lah dan berusaha menyenangkan-Nya. Mereka menjadi tan- da keunggulan mutlak cinta Kristus dan penantian kembalinya kemuliaan-Nya.

343. Bagaimana upacara Sakramen Perkawinan dilaksanakan?
Karena Sakramen Perkawinan menetapkan kedua mempelai dalam sebuah status publik kehidupan dalam Gereja, pelaksanaan liturginya bersifat publik terjadi di hadapan seorang Imam (atau seorang saksi yang diberi wewenang oleh Gereja) dan para saksi lainnya.

344. Apa kesepakatan Perkawinan itu?
Kesepakatan perkawinan diberikan ketika seorang laki-laki dan seorang perempuan mengungkapkan kehendak untuk saling memberikan diri mereka satu sama lain dengan tujuan untuk hidup bersama dalam perjanjian cinta yang setia dan subur. Karena kesepakatan menyebabkan perkawinan terjadi, kesepakatan itu mutlak perlu dan tidak tergantikan. Agar perkawinan itu sah, persetujuan ini harus jelas-jelas mengenai perkawinan yang sungguh-sungguh dan merupakan tindakan manusia yang sadar, bebas, tanpa kekerasan dan paksaan.

345. Apa yang diperlukan jika salah satu mempelai bukan Katolik?
Perkawinan campur (antara seorang Katolik dan seorang yang dibaptis bukan Katolik) membutuhkan izin otoritas gerejawi demi layaknya. Dalam kasus disparitas kultus (antara seorang Katolik dan seorang yang tidak dibaptis) memerlukan dispensasi demi sahnya. Dalam kedua kasus itu, hal yang pokok ialah kedua belah pihak mengakui dan menerima tujuan pokok dan ciri khas perkawinan. Perlu juga ditekankan bahwa pihak Katolik menerima kewajiban, yang juga sudah diketahui oleh pihak non-Katolik, untuk tetap menghayati imannya dan membaptis serta mendidik anak-anak mereka secara Katolik.

346. Apa buah Sakramen Perkawinan?
Sakramen Perkawinan menetapkan ikatan yang kekal dan eksklusif antara kedua mempelai. Al-lah memeteraikan kesepakatan perkawinan mereka. Karena itu, perkawinan yang sudah dilaksanakan dengan sah (ratum) dan sudah dilengkapi dengan persetubuhan (consumatum) antara dua orang yang sudah dibaptis tidak pernah dapat diceraikan. Terlebih lagi, Sakramen ini memberikan rahmat yang dibutuhkan bagi kedua mempelai untuk mencapai kesucian dalam kehidupan perkawinan mereka dan jika dianugerahi anak-anak, menerima tanggung jawab untuk merawat dan mendidik mereka.

347. Dosa apa yang sungguh-sungguh bertentangan dengan Sakramen Per- kawinan?
Perzinaan dan poligami bertentangan dengan Sakramen Perkawinan karena kedua hal itu betul-betul berlawanan dengan martabat kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dan dengan kesatuan dan eksklusivitas cinta perkawinan. Dosa-dosa lainnya termasuk penolakan secara sadar untuk kemungkinan mempunyai anak yang bertentangan dengan kesuburan cinta perkawinan dan keterbukaan akan anugerah anak serta perceraian yang bertentangan dengan sifat tak terceraikannya perkawinan.

348. Bilamana Gereja mengizinkan perpisahan fisik antara pasangan suami- istri?
Gereja mengizinkan perpisahan fisik pasangan suami-istri jika karena alasan yang serius mereka tidak mungkin hidup bersama, walaupun mungkin ada harapan untuk rekonsiliasi. Tetapi selama salah satu dari pasangan itu masih hidup, yang lainnya tidak bebas untuk kawin lagi kecuali jika perkawinan itu batal dan dinyata- kan demikian oleh otoritas Gereja.

349. Apa sikap Gereja terhadap mereka yang cerai dan kemudian kawin lagi?
Gereja, karena setia kepada Tuhannya, tidak dapat mengakui perkawinan orang-orang yang secara sipil bercerai dan kawin lagi. ”Barangsiapa menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinaan terhadap istrinya itu. Dan jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zina” (Markus 10:11-12). Gereja benar-benar menunjukkan keprihatinan yang dalam terhadap orang-orang itu, dan menganjurkan mereka hidup dalam iman, doa, beramal, dan memberikan pendidikan Kristiani bagi anak-anak mereka. Tetapi, mereka tidak dapat menerima absolusi Sakramental, menerima Komuni Kudus, atau mengemban tanggung jawab gerejawi tertentu selama situasi mereka tidak berubah karena secara objektif bertentangan dengan perintah Al-lah.

350. Mengapa keluarga Kristen disebut Gereja domestik?
Keluarga Kristen disebut Gereja domestik karena keluarga menampilkan dan menghayati kodrat keluarga dan komunal Gereja sebagai keluarga Al-lah. Setiap anggotakeluarga, sesuai dengan peranannyamasing-masing, melaksanakan imamat baptisan dan memberikan sumbangan untuk menjadikan sebuah keluarga itu suatu komunitas rahmat dan doa, sebuah sekolah keutamaan manusiawi dan Kristiani dan merupakan tempat iman pertama kali diwartakan kepada anak-anak.